Skip to main content

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا  ( ٱلْكَهْف: ٦٥ )

fawajadā
فَوَجَدَا
maka keduanya mendapatkan
ʿabdan
عَبْدًا
seorang hamba
min
مِّنْ
dari
ʿibādinā
عِبَادِنَآ
hamba-hamba Kami
ātaynāhu
ءَاتَيْنَٰهُ
Kami telah berikannya
raḥmatan
رَحْمَةً
rahmat
min
مِّنْ
dari
ʿindinā
عِندِنَا
sisi Kami
waʿallamnāhu
وَعَلَّمْنَٰهُ
dan Kami telah mengajarnya
min
مِن
dari
ladunnā
لَّدُنَّا
sisi Kami
ʿil'man
عِلْمًا
ilmu

“Fawajadā `Abdāan Min `Ibādinā 'Ātaynāhu Raĥmatan Min `Indinā Wa `Allamnāhu Min Ladunnā `Ilmāan.” (al-Kahf/18:65)

Artinya:

“Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahf: 65)

Lalu ketika keduanya telah sampai ke tempat hilangnya ikan itu, mereka menuju ke arah batu tempat mereka beristirahat beberapa waktu atau beberapa hari yang lalu. Di tempat itulah mereka berdua bertemu dengan seorang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, berupa kenabian atau aneka macam nikmat lainnya, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya secara langsung dari sisi Kami, yaitu ilmu tentang perkaraperkara gaib yang tidak dimengerti oleh manusia pada umumnya. Menurut sebagian besar mufasir yang dimaksud dengan hamba yang saleh itu adalah Nabi Khidr. Keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Nabi Khidr, mendorong Nabi Musa ingin tertemu dan belajar kepadanya.