Skip to main content

يٰٓاَبَتِ اِنِّي قَدْ جَاۤءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِيْٓ اَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا   ( مَرْيَم: ٤٣ )

yāabati
يَٰٓأَبَتِ
wahai ayahku
innī
إِنِّى
sesungguhnya aku
qad
قَدْ
sesungguhnya
jāanī
جَآءَنِى
telah datang kepadaku
mina
مِنَ
dari/sebagian
l-ʿil'mi
ٱلْعِلْمِ
ilmu pengetahuan
مَا
apa
lam
لَمْ
tidak
yatika
يَأْتِكَ
datang kepadamu
fa-ittabiʿ'nī
فَٱتَّبِعْنِىٓ
maka ikutilah aku
ahdika
أَهْدِكَ
aku akan menunjukkan kepadamu
ṣirāṭan
صِرَٰطًا
jalan
sawiyyan
سَوِيًّا
sama/lurus

“Yā 'Abati 'Innī Qad Jā'anī Mina Al-`Ilmi Mā Lam Ya'tika Fa Attabi`nī 'Ahdika Şirāţāan Sawīyāan.” (Maryam/19:43)

Artinya:

“Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam: 43)

Untuk lebih meyakinkan ayahnya bahwa berhala tidak layak disembah, Ibrahim berkata dengan santun, “Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, yaitu tentang tauhid atau keyakinan kepada Tuhan yang layak disembah, maka ikutilah aku dengan penuh keikhlasan dan berimanlah kepada Allah Yang Esa, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus, yaitu jalan yang akan membawamu menuju kebenaran dan kebahagiaan.”