Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
ٱلْيَوْمَ
pada hari ini
أُحِلَّ
dihalalkan
لَكُمُ
bagi kalian
ٱلطَّيِّبَٰتُۖ
yang baik-baik
وَطَعَامُ
dan makanan
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
أُوتُوا۟
(mereka) diberi
ٱلْكِتَٰبَ
Kitab
حِلٌّ
halal
لَّكُمْ
bagi kalian
وَطَعَامُكُمْ
dan makananmu
حِلٌّ
halal
لَّهُمْۖ
bagi mereka
وَٱلْمُحْصَنَٰتُ
dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan
مِنَ
dari
ٱلْمُؤْمِنَٰتِ
wanita-wanita mukmin
وَٱلْمُحْصَنَٰتُ
dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan
مِنَ
dari
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
أُوتُوا۟
(mereka) diberi
ٱلْكِتَٰبَ
kitab
مِن
dari
قَبْلِكُمْ
sebelum kalian
إِذَآ
jika
ءَاتَيْتُمُوهُنَّ
kamu memberikan kepada mereka
أُجُورَهُنَّ
mas kawin mereka
مُحْصِنِينَ
mengawininya
غَيْرَ
bukan
مُسَٰفِحِينَ
berzina
وَلَا
dan tidak
مُتَّخِذِىٓ
menjadikannya
أَخْدَانٍۗ
gundik
وَمَن
dan barang siapa
يَكْفُرْ
kafir/ingkar
بِٱلْإِيمَٰنِ
dengan/sesudah beriman
فَقَدْ
maka sungguh
حَبِطَ
terhapus
عَمَلُهُۥ
amalnya
وَهُوَ
dan dia
فِى
di
ٱلْءَاخِرَةِ
akhirat
مِنَ
dari/termasuk
ٱلْخَٰسِرِينَ
orang-orang yang rugi

Al-Yawma 'Uĥilla Lakum Aţ-Ţayyibātu Wa Ţa`āmu Al-Ladhīna 'Ūtū Al-Kitāba Ĥillun Lakum Wa Ţa`āmukum Ĥillun Lahum Wa Al-Muĥşanātu Mina Al-Mu'umināti Wa Al-Muĥşanātu Mina Al-Ladhīna 'Ūtū Al-Kitāba Min Qablikum 'Idhā 'Ātaytumūhunna 'Ujūrahunna Muĥşinīna Ghayra Musāfiĥīna Wa Lā Muttakhidhī 'Akhdānin Wa Man Yakfur Bil-'Īmāni Faqad Ĥabiţa `Amaluhu Wa Huwa Fī Al-'Ākhirati Mina Al-Khāsirīna.

Tafsir Bahasa:

Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.

(5) Ayat ini menerangkan tiga macam hal yang halal bagi orang mukmin, yaitu; 1. Makanan yang baik-baik, seperti dimaksud pada ayat keempat. Kemudian disebutkan kembali pada ayat ini untuk menguatkan arti baik itu dan menerangkan bahwa diperbolehkannya memakan makanan yang baik-baik itu tidak berubah. 2. Makanan Ahli Kitab. Makanan di sini menurut jumhur ulama ialah sembelihan orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka pada waktu itu mempunyai kepercayaan bahwa haram hukumnya memakan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Selama mereka masih mempunyai kepercayaan seperti itu, maka sembelihan mereka tetap halal. Sedangkan makanan lainnya seperti buah-buahan, dan sebagainya dikembalikan saja hukumnya kepada jenis yang pertama yaitu tayyibat, apabila termasuk golongan makanan yang baik-baik boleh dimakan, kalau tidak (khabais), haram dimakan. Adapun sembelihan orang kafir yang bukan Ahli Kitab haram dimakan. 3. Mengawini perempuan-perempuan merdeka (bukan budak) dan perempuan-perempuan mukmin dan perempuan Ahli Kitab hukumnya halal. Menurut sebagian mufasir yang dimaksud al-muhsanat ialah perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan dirinya. Laki-laki boleh mengawini perempuan-perempuan tersebut dengan kewajiban memberi nafkah, asalkan tidak ada maksud-maksud lain yang terkandung dalam hati seperti mengambil mereka untuk berzina dan tidak pula untuk dijadikan gundik. Ringkasnya laki-laki mukmin boleh mengawini perempuan-perempuan Ahli Kitab dengan syarat-syarat seperti tersebut di atas. Tetapi perempuan-perempuan Islam tidak boleh kawin dengan laki-laki Ahli Kitab apalagi dengan laki-laki kafir yang bukan Ahlil Kitab. Kemudian akhir ayat kelima ini memperingatkan, bahwa barang siapa yang kafir sesudah beriman, maka semua amal baik yang pernah dikerjakannya akan hapus semuanya dan di akhirat termasuk orang yang rugi.