Skip to main content

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ  ( ٱلْكَهْف: ١ )

al-ḥamdu
ٱلْحَمْدُ
segala puji
lillahi
لِلَّهِ
bagi Allah
alladhī
ٱلَّذِىٓ
yang
anzala
أَنزَلَ
telah menurunkan
ʿalā
عَلَىٰ
atas/kepada
ʿabdihi
عَبْدِهِ
hambaNya
l-kitāba
ٱلْكِتَٰبَ
Kitab
walam
وَلَمْ
dan tidak
yajʿal
يَجْعَل
Dia menjadikan
lahu
لَّهُۥ
baginya
ʿiwajā
عِوَجَاۜ
bengkok

“Al-Ĥamdu Lillāhi Al-Ladhī 'Anzala `Alaá `Abdihi Al-Kitāba Wa Lam Yaj`al Llahu `Iwajā.” (al-Kahf/18:1)

Artinya:

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok;” (QS. Al-Kahf: 1)

Pada akhir Surah al-Isra , Rasulullah diperintah agar memuji Allah dan menyucikannya dari segala kekurangan. Surah ini dimulai dengan menyampaikan kewajaran Allah menyandang pujian itu dengan mengingatkan tentang keharusan memuji dan menaati perintahnya sesuai dengan yang digariskan agama dalam kitab suci Al-Qur'an. Segala puji hanya tertuju bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya, yaitu Nabi Muhammad Al-Kitab, yakni Al-Qur'an, dan Dia tidak membuat padanya kebengkokan, baik redaksi maupun maknanya. Ayat demi ayatnya saling menjelaskan tidak ada pertentangan satu dengan lainnya.