Skip to main content

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ   ( ٱلْعَنْكَبُوت: ٢ )

aḥasiba
أَحَسِبَ
apakah mengira
l-nāsu
ٱلنَّاسُ
manusia
an
أَن
bahwa
yut'rakū
يُتْرَكُوٓا۟
mereka ditinggalkan/dibiarkan
an
أَن
bahwa
yaqūlū
يَقُولُوٓا۟
mereka mengatakan
āmannā
ءَامَنَّا
kami telah beriman
wahum
وَهُمْ
dan/sedang mereka
لَا
tidak
yuf'tanūna
يُفْتَنُونَ
mereka akan diuji

“'Aĥasiba An-Nāsu 'An Yutrakū 'An Yaqūlū 'Āmannā Wa Hum Lā Yuftanūna.” (al-ʿAnkabūt/29:2)

Artinya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-'Ankabut: 2)

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja pada setiap waktu, tempat dan situasi hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji dengan hal-hal yang dapat membuktikan hakikat keimanan mereka, yaitu dalam bentuk cobaan-cobaan dan tugas-tugas keagamaan? Tidak, bahkan mereka harus diuji dengan hal-hal seperti itu.