Skip to main content

اِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِۗ وَاِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ   ( ٱلنَّحْل: ١٢٤ )

innamā
إِنَّمَا
sesungguhnya hanyalah
juʿila
جُعِلَ
dijadikan
l-sabtu
ٱلسَّبْتُ
hari Sabtu
ʿalā
عَلَى
atas
alladhīna
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ikh'talafū
ٱخْتَلَفُوا۟
(mereka) berselisih
fīhi
فِيهِۚ
didalamnya/padanya
wa-inna
وَإِنَّ
dan sesungguhnya
rabbaka
رَبَّكَ
Tuhanmu
layaḥkumu
لَيَحْكُمُ
sungguh akan memutuskan
baynahum
بَيْنَهُمْ
diantara mereka
yawma
يَوْمَ
pada hari
l-qiyāmati
ٱلْقِيَٰمَةِ
kiamat
fīmā
فِيمَا
tentang apa
kānū
كَانُوا۟
adalah mereka
fīhi
فِيهِ
didalamnya/padanya
yakhtalifūna
يَخْتَلِفُونَ
mereka perselisihkan

“'Innamā Ju`ila As-Sabtu `Alaá Al-Ladhīna Akhtalafū Fīhi Wa 'Inna Rabbaka Layaĥkumu Baynahum Yawma Al-Qiyāmati Fīmā Kānū Fīhi Yakhtalifūna.” (an-Naḥl/16:124)

Artinya:

“Sesungguhnya (menghormati) hari Sabtu hanya diwajibkan atas orang (Yahudi) yang memperselisihkannya. Dan sesungguhnya Tuhanmu pasti akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.” (QS. An-Nahl: 124)

Sesungguhnya pengagungan dan larangan berburu pada hari Sabtu bukanlah ajaran Nabi Ibrahim, melainkan hanya diwajibkan atas orang Yahudi yang memperselisihkannya, yakni menyangkut hari yang harus diagungkan. Dan sesungguhnya Tuhanmu Yang Maha Memberi petunjuk dan keputusan pasti akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.