Skip to main content

قُلْ لَّوْ اَنْتُمْ تَمْلِكُوْنَ خَزَاۤىِٕنَ رَحْمَةِ رَبِّيْٓ اِذًا لَّاَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْاِنْفَاقِۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ قَتُوْرًا ࣖ  ( ٱلْإِسْرَاء: ١٠٠ )

qul
قُل
katakanlah
law
لَّوْ
kalau seandainya
antum
أَنتُمْ
kamu
tamlikūna
تَمْلِكُونَ
kamu memiliki/menguasai
khazāina
خَزَآئِنَ
perbendaharaan
raḥmati
رَحْمَةِ
rahmat
rabbī
رَبِّىٓ
Tuhanku
idhan
إِذًا
jika demikian
la-amsaktum
لَّأَمْسَكْتُمْ
niscaya kamu menahan
khashyata
خَشْيَةَ
takut
l-infāqi
ٱلْإِنفَاقِۚ
membelanjakan
wakāna
وَكَانَ
dan adalah
l-insānu
ٱلْإِنسَٰنُ
manusia
qatūran
قَتُورًا
sangat kikir

“Qul Law 'Antum Tamlikūna Khazā'ina Raĥmati Rabbī 'Idhāan La'amsaktum Khashyata Al-'Infāqi Wa Kāna Al-'Insānu Qatūrāan.” (al-ʾIsrāʾ/17:100)

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), “Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan manusia itu memang sangat kikir.” (QS. Al-Isra': 100)

Ayat ini merupakan lanjutan dari jawaban terhadap tuntutan kaum musyrik. Katakanlah wahai Nabi Muhammad, "Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, berupa harta benda atau apa saja yang dianugerahkan Allah kepada makhluk-Nya, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, tidak kamu berikan kepada siapa yang membutuhkan karena takut membelanjakannya, yakni takut kemiskinan karena membelanjakan apa yang dianugerahkan oleh Tuhanmu." Dan manusia itu memang sangat kikir. Demikianlah Allah tidak akan mengabulkan tuntutan mereka karena seperti itulah ketetapan Allah menyangkut hikmah dan maslahat dalam penciptaan makhluk-Nya.