Skip to main content

قَالَ هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَۚ سَاُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا   ( ٱلْكَهْف: ٧٨ )

qāla
قَالَ
(Khaidir) berkata
hādhā
هَٰذَا
inilah
firāqu
فِرَاقُ
perpisahan
baynī
بَيْنِى
diantaraku
wabaynika
وَبَيْنِكَۚ
dan diantara kamu
sa-unabbi-uka
سَأُنَبِّئُكَ
akan aku beritahukan kepadamu
bitawīli
بِتَأْوِيلِ
ta'wil/maksud kejadian
مَا
apa
lam
لَمْ
yang tidak
tastaṭiʿ
تَسْتَطِع
kamu sanggup/dapat
ʿalayhi
عَّلَيْهِ
atasnya/terhadapnya
ṣabran
صَبْرًا
bersabar

“Qāla Hādhā Firāqu Baynī Wa Baynika Sa'unabbi'uka Bita'wīli Mā Lam Tastaţi` `Alayhi Şabrāan.” (al-Kahf/18:78)

Artinya:

“Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahf: 78)

Mendengar komentar Nabi Musa, dia, hamba yang saleh itu, berkata, “Inilah saat perpisahan antara aku dengan engkau sebagaimana janjimu sebelumnya. Sebelum kita berpisah, aku akan memberikan penjelasan secara rinci kepadamu atas semua perbuatan yang telah aku lakukan dan membuat engkau tidak mampu bersikap sabar terhadapnya.
Kesabaran dalam menuntut ilmu harus dimiliki oleh semua penuntut ilmu. Tanpa kesabaran niscaya muncul ketergesa-gesaan yang pada akhirnya akan menyebabkan kegagalan.