Skip to main content

ثَانِيَ عِطْفِهٖ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ لَهٗ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّنُذِيْقُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ  ( ٱلْحَجّ: ٩ )

thāniya
ثَانِىَ
bengkok/palingkan
ʿiṭ'fihi
عِطْفِهِۦ
lambungnya
liyuḍilla
لِيُضِلَّ
untuk menyesatkan
ʿan
عَن
dari
sabīli
سَبِيلِ
jalan
l-lahi
ٱللَّهِۖ
Allah
lahu
لَهُۥ
baginya
فِى
di
l-dun'yā
ٱلدُّنْيَا
dunia
khiz'yun
خِزْىٌۖ
kehinaan
wanudhīquhu
وَنُذِيقُهُۥ
dan Kami akan merasakan kepadanya
yawma
يَوْمَ
hari
l-qiyāmati
ٱلْقِيَٰمَةِ
kiamat
ʿadhāba
عَذَابَ
azab
l-ḥarīqi
ٱلْحَرِيقِ
yang membakar

“Thāniya `Iţfihi Liyuđilla `An Sabīli Allāhi Lahu Fī Ad-Dunyā Khizyun Wa Nudhīquhu Yawma Al-Qiyāmati `Adhāba Al-Ĥarīqi.” (al-Ḥajj/22:9)

Artinya:

“Sambil memalingkan lambungnya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia mendapat kehinaan di dunia, dan pada hari Kiamat Kami berikan kepadanya rasa azab neraka yang membakar.” (QS. Al-Hajj: 9)

Manusia yang mengingkari Allah dengan hatinya yang gelap, sambil memalingkan lambungnya dengan congkak berusaha dengan segala cara untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia sebenarnya mendapat kehinaan di dunia karena hidup tanpa kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual hingga hidupnya dibiarkan tanpa bimbingan Allah; dan pada hari Kiamat sebagai balasan atas kekufurannya, Kami berikan kepadanya rasa azab neraka yang membakar hingga kulitnya hangus, kemudian kulitnya diperbarui supaya terus bisa merasakan azab yang membakar.