Skip to main content

وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ ࣖ   ( ٱلنَّمْل: ١٤ )

wajaḥadū
وَجَحَدُوا۟
dan mereka mengingkari
bihā
بِهَا
dengannya
wa-is'tayqanathā
وَٱسْتَيْقَنَتْهَآ
dan meyakininya
anfusuhum
أَنفُسُهُمْ
diri/jiwa mereka
ẓul'man
ظُلْمًا
kezaliman
waʿuluwwan
وَعُلُوًّاۚ
dan kesombongan
fa-unẓur
فَٱنظُرْ
maka perhatikanlah
kayfa
كَيْفَ
bagaimana
kāna
كَانَ
adalah
ʿāqibatu
عَٰقِبَةُ
akibat/kesudahan
l-muf'sidīna
ٱلْمُفْسِدِينَ
orang-orang yang berbuat kerusakan

“Wa Jaĥadū Bihā Wa Astayqanat/hā 'Anfusuhum Žulmāan Wa `Ulūwāan Fānžur Kayfa Kāna `Āqibatu Al-Mufsidīna.” (an-Naml/27:14)

Artinya:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. An-Naml: 14)

Allah mengungkapkan jati diri mereka yang sebenarnya. Dan mereka mengingkarinya, yakni bukti-bukti kebenaran Nabi Musa, karena kezaliman dan kesombongannya dengan tidak mau mengakui bukti-bukti tersebut, padahal hati mereka meyakini kebenaran-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Mereka pasti akan terkena sanksi berat dari Allah.