Skip to main content

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَآ اَرَى الْهُدْهُدَۖ اَمْ كَانَ مِنَ الْغَاۤىِٕبِيْنَ   ( ٱلنَّمْل: ٢٠ )

watafaqqada
وَتَفَقَّدَ
dan dia memeriksa/mencari
l-ṭayra
ٱلطَّيْرَ
burung
faqāla
فَقَالَ
lalu dia berkata
مَا
tidak ada/mengapa
liya
لِىَ
bagiku
لَآ
aku tidak
arā
أَرَى
melihat
l-hud'huda
ٱلْهُدْهُدَ
hud-hud
am
أَمْ
atau
kāna
كَانَ
adalah ia
mina
مِنَ
dari/termasuk
l-ghāibīna
ٱلْغَآئِبِينَ
yang gaib/tidak hadir

“Wa Tafaqqada Aţ-Ţayra Faqāla Mā Lī Lā 'Araá Al-Hud/huda 'Am Kāna Mina Al-Ghā'ibīna.” (an-Naml/27:20)

Artinya:

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?” (QS. An-Naml: 20)

Jika pada ayat yang lalu Nabi Sulaiman memahami bahasa semut, pada ayat ini Nabi Sulaiman memahami bahasa burung, antara lain burung Hudhud. Nabi Sulaiman menggunakan burung Hudhud untuk berbagai keperluan seperti membawakan surat, mencari air dan memantau keadaan bangsa lain. Dan pada satu kesempatan, dia, Sulaiman, memeriksa burung-burung yang ada di sekitarnya, lalu berkata kepada prajurit yang ada, “Mengapa aku tidak melihat burung Hudhud? Kemanakah dia? Apakah ia termasuk yang tidak hadir?