Skip to main content

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْا ۗوَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًا ۗ   ( ٱلْأَحْزَاب: ٦٩ )

yāayyuhā
يَٰٓأَيُّهَا
wahai
alladhīna
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
āmanū
ءَامَنُوا۟
beriman
لَا
janganlah
takūnū
تَكُونُوا۟
kalian menjadi
ka-alladhīna
كَٱلَّذِينَ
seperti orang-orang yang
ādhaw
ءَاذَوْا۟
(mereka) menyakiti
mūsā
مُوسَىٰ
Musa
fabarra-ahu
فَبَرَّأَهُ
maka membebaskannya
l-lahu
ٱللَّهُ
Allah
mimmā
مِمَّا
dari apa
qālū
قَالُوا۟ۚ
mereka katakan
wakāna
وَكَانَ
dan adalah
ʿinda
عِندَ
disisi
l-lahi
ٱللَّهِ
Allah
wajīhan
وَجِيهًا
terhormat

“Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Lā Takūnū Kālladhīna 'Ādhaw Mūsaá Fabarra'ahu Allāhu Mimmā Qālū Wa Kāna `Inda Allāhi Wajīhāan.” (al-ʾAḥzāb/33:69)

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 69)

Usai menyebutkan penyesalan orang-orang kafir ketika merasakan siksa neraka, Allah pada ayat-ayat berikut beralih menjelaskan larangan menyakiti orang lain dengan tuduhan palsu dan perkataan bohong. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang dari Bani Israil yang menyakiti hati Nabi Musa dengan berkata dusta. Nabi Musa sangat jauh dari tuduhan dusta tersebut, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.