Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
وَإِذْ
dan ketika
أَوْحَيْتُ
Aku wahyukan
إِلَى
kepada
ٱلْحَوَارِيِّۦنَ
pengikut yang setia
أَنْ
hendaknya
ءَامِنُوا۟
beriman
بِى
kepadaKu
وَبِرَسُولِى
dan kepada RasulKu
قَالُوٓا۟
mereka berkata
ءَامَنَّا
kami telah beriman
وَٱشْهَدْ
dan saksikanlah
بِأَنَّنَا
bahwa sesungguhnya kami
مُسْلِمُونَ
orang-orang muslim

Wa 'Idh 'Awĥaytu 'Ilaá Al-Ĥawārīyīna 'An 'Āminū Bī Wa Birasūlī Qālū 'Āmannā Wa Ash/had Bi'annanā Muslimūna.

Tafsir Bahasa:

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia, “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab, “Kami telah beriman, dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim).”

(111) Allah menjelaskan sikap kaum hawariyin, yaitu satu kelompok dari Bani Israil yang menerima baik agama Allah yang disampaikan oleh Nabi Isa. Lalu mereka berkata kepada Nabi Isa, "Kami telah beriman; dan saksikanlah, bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh kepada seruanmu." Maksudnya, mereka beriman dan menerima seruan Nabi Isa, dan akan melaksanakan semua perintah-perintahnya, sebagai bukti dari iman tersebut. Arti nikmat Allah kepada Nabi Isa dalam hal ini ialah bahwa Nabi Isa telah mendapat sambutan baik dari kaum hawariyin, sehingga mereka mencintai dan mematuhinya. Ini tidak hanya merupakan nikmat bagi Nabi Isa semata-mata, melainkan juga nikmat bagi ibunya, sebab setiap nikmat yang diperoleh seorang anak, juga mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi ibunya.