Skip to main content

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚوَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ   ( ٱلْمَائِدَة: ١١٨ )

in
إِن
jika
tuʿadhib'hum
تُعَذِّبْهُمْ
Engkau menyiksa mereka
fa-innahum
فَإِنَّهُمْ
maka sesungguhnya mereka
ʿibāduka
عِبَادُكَۖ
hamba-hamba Engkau
wa-in
وَإِن
dan jika
taghfir
تَغْفِرْ
Engkau mengampuni
lahum
لَهُمْ
kepada mereka
fa-innaka
فَإِنَّكَ
maka sesungguhnya Engkau
anta
أَنتَ
Engkau
l-ʿazīzu
ٱلْعَزِيزُ
Maha Perkasa
l-ḥakīmu
ٱلْحَكِيمُ
Maha Bijaksana

“'In Tu`adhdhibhum Fa'innahum `Ibāduka Wa 'In Taghfir Lahum Fa'innaka 'Anta Al-`Azīzu Al-Ĥakīmu.” (al-Māʾidah/5:118)

Artinya:

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”” (QS. Al-Ma'idah: 118)

Nabi Isa lalu mengembalikan nasib umatnya yang menyimpang dari ajarannya di akhirat kepada keputusan Allah. "Wahai Tuhan Yang Maha Bijaksana, jika Engkau menyiksa mereka, karena mereka menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, tidak ada seorang atau suatu apa pun yang menghalangi kehendak-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, dengan kebesaran dan keagungan-Mu, meskipun mereka menyeleweng; sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana dalam segala yang hal yang Engkau putuskan."