Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
فَرَّقُوا۟
(mereka) memecah belah
دِينَهُمْ
agama mereka
وَكَانُوا۟
dan mereka adalah
شِيَعًا
bergolong-golong
لَّسْتَ
tidaklah kamu
مِنْهُمْ
dari/diantara mereka
فِى
dalam
شَىْءٍۚ
sesuatu/sedikitpun
إِنَّمَآ
sesungguhnya hanyalah
أَمْرُهُمْ
urusan mereka
إِلَى
kepada
ٱللَّهِ
Allah
ثُمَّ
kemudian
يُنَبِّئُهُم
Dia menerangkan kepada mereka
بِمَا
dengan apa
كَانُوا۟
adalah mereka
يَفْعَلُونَ
mereka perbuat

'Inna Al-Ladhīna Farraqū Dīnahum Wa Kānū Shiya`āan Lasta Minhum Fī Shay'in 'Innamā 'Amruhum 'Ilaá Allāhi Thumma Yunabbi'uhum Bimā Kānū Yaf`alūna.

Tafsir Bahasa:

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

(159 Ayat ini menerangkan bahwa berpecah-belahnya umat Islam menjadi bermacam-macam golongan dan kelompok yang sangat fanatik, maka akan menimbulkan perselisihan dan permusuhan akibat perbedaan paham dan pendapat. Masing-masing merasa benar sendiri, masing-masing mencari jalan untuk menang bukan untuk mencari kebenaran, baik dengan cara mempergunakan hadis-hadis yang tidak patut dipergunakan, dan menakwilkan Al-Qur'an menurut selera dan kemauannya sendiri. Orang seperti ini berada di luar tanggung jawab Nabi Muhammad tetapi urusan Allah untuk memberi balasan yang sewajarnya. Menurut sunatullah di dalam dunia ini, bahwa dua pihak yang berkelahi akan menjadi mangsa bagi pihak ketiga yang mencari keuntungan. Ini adalah balasan di dunia dan mereka akan merasakan balasan lainnya di akhirat setimpal dengan apa yang mereka perbuat. Menurut Tafsir al-Maragi, sebab-sebab perpecahan di kalangan umat Islam dalam pemahaman agama yang mengakibatkan kelemahan mereka dalam urusan dunia ada lima yaitu; 1. Pertentangan (perebutan) kekuasaan dan ini terjadi semenjak permulaan Islam sampai sekarang. 2. Fanatik kebangsaan (rumpun keturunan), karena setiap bangsa dan rumpun keturunan (ras) tidak senang dikuasai oleh yang lain. 3. Fanatik mazhab dan pendapat tentang pokok agama dan cabang-cabangnya. 4. Fatwa agama menurut pikiran dan selera saja. Karenanya banyak orang yang berani memberikan fatwa di dalam agama Islam, padahal ia belum bisa mengambil suatu hukum dari Al-Qur'an dan hadis. 5. Usaha dan tipu daya memecah belah dari kelompok musuh-musuh Islam, sehingga banyak hadis maudhu' (palsu) disebabkan mereka yang dapat mempengaruhi umat (pemimpin Islam) mempergunakannya sebagai dalil-dalil agama Islam.