Skip to main content

قَدْ فَرَضَ اللّٰهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ اَيْمَانِكُمْۚ وَاللّٰهُ مَوْلٰىكُمْۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ   ( ٱلتَّحْرِيم: ٢ )

qad
قَدْ
sesungguhnya
faraḍa
فَرَضَ
mewajibkan
l-lahu
ٱللَّهُ
Allah
lakum
لَكُمْ
bagi kalian
taḥillata
تَحِلَّةَ
pembebasan
aymānikum
أَيْمَٰنِكُمْۚ
sumpah-sumpahmu
wal-lahu
وَٱللَّهُ
dan Allah
mawlākum
مَوْلَىٰكُمْۖ
pelindungmu
wahuwa
وَهُوَ
dan Dia
l-ʿalīmu
ٱلْعَلِيمُ
Maha Mengetahui
l-ḥakīmu
ٱلْحَكِيمُ
Maha Bijaksana

“Qad Farađa Allāhu Lakum Taĥillata 'Aymānikum Wa Allāhu Mawlākum Wa Huwa Al-`Alīmu Al-Ĥakīmu.” (at-Taḥrīm/66:2)

Artinya:

“Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. At-Tahrim: 2)

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi untuk membatalkan sumpah beliau mengharamkan minum madu dan berhubungan dengan salah seorang istri beliau, Mariyah al-Qibíiyyah. “Sungguh, Allah telah mewajibkan kepada kamu, wahai Nabi untuk membebaskan diri dari sumpah kamu untuk tidak akan minum madu dan tidak akan berhubungan dengan istri dengan membayar kafarat; dan Allah adalah pelindungmu, wahai Nabi dari segala keadaan yang tidak menyenangkan dan Dia Maha Mengetahui, semua yang dirahasiakan manusia; Mahabijaksana dalam menilai perbuatan mereka.”