Skip to main content

بَلْ يُرِيْدُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّؤْتٰى صُحُفًا مُّنَشَّرَةًۙ  ( ٱلْمُدَّثِّر: ٥٢ )

bal
بَلْ
bahkan
yurīdu
يُرِيدُ
menghendaki
kullu
كُلُّ
tiap-tiap
im'ri-in
ٱمْرِئٍ
seseorang
min'hum
مِّنْهُمْ
di antara mereka
an
أَن
untuk
yu'tā
يُؤْتَىٰ
diberi ia
ṣuḥufan
صُحُفًا
lembaran-lembaran
munasharatan
مُّنَشَّرَةً
ditebarkan/terbuka

“Bal Yurīdu Kullu Amri'in Minhum 'An Yu'utaá Şuĥufāan Munashsharatan.” (al-Muddathir/74:52)

Artinya:

“Bahkan setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran (kitab) yang terbuka.” (QS. Al-Muddassir: 52)

Setelah digambarkan sikap lahiriah para pendurhaka yang lari kebingungan bagaikan keledai, kini dilukiskan tentang keadaan batin mereka. Bahkan yang lebih aneh lagi setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran kitab yang terbuka dari Tuhan. 53-55. Sebagai tanggapan atas usul dan keinginan mereka tersebut, ayat ini menegaskan, sekali-kali tidak! Sebenarnya mereka tidak takut kepada siksa akhirat. Kalau sikap mereka tetap seperti itu maka sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya, karena fungsi utama Al-Qur’an di antaranya adalah sebagai peringatan bagi manusia.