Skip to main content

كَمَآ اَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْۢ بَيْتِكَ بِالْحَقِّۖ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ لَكٰرِهُوْنَ  ( ٱلْأَنْفَال: ٥ )

kamā
كَمَآ
sebagaimana
akhrajaka
أَخْرَجَكَ
mengeluarkan/menyuruh kamu pergi
rabbuka
رَبُّكَ
Tuhanmu
min
مِنۢ
dari
baytika
بَيْتِكَ
rumahmu
bil-ḥaqi
بِٱلْحَقِّ
dengan kebenaran
wa-inna
وَإِنَّ
dan sesungguhnya
farīqan
فَرِيقًا
segolongan
mina
مِّنَ
dari
l-mu'minīna
ٱلْمُؤْمِنِينَ
orang-orang yang beriman
lakārihūna
لَكَٰرِهُونَ
sungguh orang-orang yang tidak menyukai

“Kamā 'Akhrajaka Rabbuka Min Baytika Bil-Ĥaqqi Wa 'Inna Farīqāan Mina Al-Mu'uminīna Lakārihūna.” (al-ʾAnfāl/8:5)

Artinya:

“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, meskipun sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya,” (QS. Al-Anfal: 5)

Sesungguhnya kemenangan itu bersumber dari Allah, tempat bergantungnya segala urusan. Persengketaan orang-orang beriman menyangkut soal pembagian harta rampasan perang itu mirip keadaan mereka ketika Allah memberi perintah kepada mereka untuk memerangi orang-orang musyrik di Badar. Sebagaimana keadaan kaum muslim ketika berselisih soal pembagian harta rampasan, lalu Allah dan RasulNya mengambil alih pembagian itu, demikian pula ketika Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu di Madinah untuk menghadang kafilah Quraisy dan berperang di Badar dengan cara dan tujuan yang benar melalui wahyu, meskipun sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu benar-benar tidak menyukainya ikut keluar menghadang musuh. Ketidaksenangan mereka sekarang soal pembagian harta rampasan sama dengan ketidaksenangan mereka dahulu ketika diperintah ke Badar, tetapi kemudian terbukti pilihan Allah-lah yang menghasilkan kemenangan dan kebahagiaan.