Skip to main content

اَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ اَمْ جَاۤءَهُمْ مَّا لَمْ يَأْتِ اٰبَاۤءَهُمُ الْاَوَّلِيْنَ ۖ  ( ٱلْمُؤْمِنُون: ٦٨ )

afalam
أَفَلَمْ
apakah maka tidak
yaddabbarū
يَدَّبَّرُوا۟
mereka memperhatikan
l-qawla
ٱلْقَوْلَ
perkataan
am
أَمْ
atau
jāahum
جَآءَهُم
telah datang mereka
مَّا
apa
lam
لَمْ
yang tidak
yati
يَأْتِ
datang
ābāahumu
ءَابَآءَهُمُ
bapak-bapak mereka
l-awalīna
ٱلْأَوَّلِينَ
orang-orang dahulu

“'Afalam Yaddabbarū Al-Qawla 'Am Jā'ahum Mā Lam Ya'ti 'Ābā'ahumu Al-'Awwalīna.” (al-Muʾminūn/23:68)

Artinya:

“Maka tidakkah mereka menghayati firman (Allah), atau adakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka terdahulu?” (QS. Al-Mu'minun: 68)

Maka keberpalingan dan perlakukan para pendurhaka itu kepada ayat-ayat Kami sungguh keterlaluan. Tidakkah mereka menggunakan akalnya sehingga dapat menghayati firman Kami, ataukah mereka mendustakan rasul dengan alasan telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka terdahulu, yaitu risalah kenabian yang tidak dikenal oleh leluhur mereka? Jelas bukan itu alasannya! Risalah Nabi Muhamamd sama dengan risalah nabi-nabi terdahulu (Lihat juga: Surah al-Anbiyà’/21: 25). Ataukah mereka ingkar dengan dalih bahwa mereka tidak mengenal Rasul mereka, yaitu Nabi Muhammad, karena itu mereka mengingkarinya? Ini pun bukanlah alasan yang dapat diterima karena mereka mengenal dengan baik Nabi Muhammad, bahkan mereka mengakui integritasnya dengan menggelarinya “al-Amin”? Atau apakah mereka menolak dakwah Nabi Muhamamd dengan berkata, “Orang itu gila!”? Sungguh, tuduhan itu tidak masuk akal karena mereka tahu pasti Nabi Muhammad adalah orang yang paling lurus akalnya. Sebenarnya, pangkal penolakan adalah karena dia telah datang membawa kebenaran, yaitu Al-Qur’an, kepada mereka, tetapi kebanyakan mereka membenci kebenaran karena bertentangan dengan hawa nafsu dan syahwat mereka.