Skip to main content

وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ وَاَنْتُمْ تُبْصِرُوْنَ   ( ٱلنَّمْل: ٥٤ )

walūṭan
وَلُوطًا
dan Lut
idh
إِذْ
ketika
qāla
قَالَ
dia berkata
liqawmihi
لِقَوْمِهِۦٓ
kepada kaumnya
atatūna
أَتَأْتُونَ
mengapa kamu mendatangkan / mengapa kamu mengerjakan
l-fāḥishata
ٱلْفَٰحِشَةَ
perbuatan keji
wa-antum
وَأَنتُمْ
dan kalian
tub'ṣirūna
تُبْصِرُونَ
kamu melihat/mempunyai pandangan

“Wa Lūţāan 'Idh Qāla Liqawmihi 'Ata'tūna Al-Fāĥishata Wa 'Antum Tubşirūna.” (an-Naml/27:54)

Artinya:

“Dan (ingatlah kisah) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji), padahal kamu melihatnya (kekejian perbuatan maksiat itu)?”” (QS. An-Naml: 54)

Dan ingatlah, wahai Rasul, dan ceritakan kepada kaummu kisah Nabi Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah, perilaku keji, yaitu melakukan hubungan seksual antara lelaki dengan sesama jenis padahal kamu melihatnya yaitu kekejian perbuatan maksiat itu? Mengapa kamu membiarkan hal itu terus terjadi dan kamu melakukannya?