Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
كُلُّ
tiap-tiap
نَفْسٍ
jiwa
ذَآئِقَةُ
akan merasakan
ٱلْمَوْتِۗ
mati
وَإِنَّمَا
dan sesungguhnya hanyalah
تُوَفَّوْنَ
akan disempurnakan
أُجُورَكُمْ
pahalamu
يَوْمَ
pada hari
ٱلْقِيَٰمَةِۖ
kiamat
فَمَن
maka barang siapa
زُحْزِحَ
ia dijauhkan
عَنِ
dari
ٱلنَّارِ
neraka
وَأُدْخِلَ
dan ia dimasukkan
ٱلْجَنَّةَ
surga
فَقَدْ
maka sungguh
فَازَۗ
ia beruntung
وَمَا
dan tidak
ٱلْحَيَوٰةُ
kehidupan
ٱلدُّنْيَآ
dunia
إِلَّا
melainkan
مَتَٰعُ
kesenangan
ٱلْغُرُورِ
tipuan/memperdayakan

Kullu Nafsin Dhā'iqatu Al-Mawti Wa 'Innamā Tuwaffawna 'Ujūrakum Yawma Al-Qiyāmati Faman Zuĥziĥa `An An-Nāri Wa 'Udkhila Al-Jannata Faqad Fāza Wa Mā Al-Ĥayāatu Ad-Dunyā 'Illā Matā`u Al-Ghurūri.

Tafsir Bahasa:

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.

(185) Setiap yang bernyawa akan merasakan mati dan di hari kiamat nanti disempurnakan balasan masing-masing yang baik dibalas dengan yang baik, yaitu surga dan yang buruk akan dibalas dengan yang buruk pula yaitu neraka, sesuai dengan sabda Rasulullah saw; Kubur itu merupakan taman dari taman-taman surga, atau merupakan jurang dari jurang-jurang neraka. (Riwayat at-Tirmidzi dan at-thabrani). Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, dialah yang berbahagia. Untuk mencapai kebahagiaan di atas, baiklah kita perhatikan sabda Rasulullah saw sebagai berikut; "Siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ia mati di dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan agar ia berbuat kepada manusia seperti yang ia sukai diperbuat orang kepadanya." (Riwayat Imam Ahmad). Kehidupan di dunia ini tiada lain kecuali kesenangan yang memperdayakan. Kesenangan yang dirasakan di dunia ini berupa makanan, minuman, pangkat, kedudukan dan sebagainya, pada umumnya memperdayakan manusia. Disangkanya itulah kebahagiaan, maka tenggelamlah ia dan asyik dengan kenikmatan dunia. Padahal kalau manusia kurang pandai mempergunakannya, maka kesenangan itu akan menjadi bencana yang menyebabkan kerugian di dunia dan di akhirat kelak mendapat azab yang pedih.