Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
هَٰٓأَنتُمْ
beginilah kamu
هَٰٓؤُلَآءِ
(kamu) ini
حَٰجَجْتُمْ
(kamu) berbantahan
فِيمَا
tentang apa
لَكُم
bagi kalian
بِهِۦ
dengannya
عِلْمٌ
pengetahuan
فَلِمَ
maka mengapa
تُحَآجُّونَ
kamu berbantahan
فِيمَا
tentang apa
لَيْسَ
tidak ada
لَكُم
bagi kalian
بِهِۦ
dengannya
عِلْمٌۚ
pengetahuan
وَٱللَّهُ
dan Allah
يَعْلَمُ
Dia mengetahui
وَأَنتُمْ
dan kalian
لَا
tidak
تَعْلَمُونَ
(kalian) mengetahui

Hā'antum Hā'uulā' Ĥājajtum Fīmā Lakum Bihi `Ilmun Falima Tuĥājjūna Fīmā Laysa Lakum Bihi `Ilmun Wa Allāhu Ya`lamu Wa 'Antum Lā Ta`lamūna.

Tafsir Bahasa:

Begitulah kamu! Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan juga tentang apa yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

(66) Memang sewajarnya orang-orang berbantahan tentang urusan Nabi Isa dan sewajarnya pula bila perbantahan mereka itu berdasarkan hal-hal yang mereka ketahui. Tetapi ternyata di antara yang berbantahan itu ada yang terlibat pada persoalan yang berlebih-lebihan, hingga mengakui bahwa Nabi Isa itu tuhan, bahkan di antaranya ada yang sebaliknya, menuduhnya sebagai pembual dan pendusta. Demikian itu terjadi karena masing-masing pihak tidak mengetahui yang sebenarnya, sehingga masing-masing pihak tak dapat menghindarkan diri dari kesalahan. Seterusnya Allah mencela orang Yahudi dan orang Nasrani yang berbantahan tentang agama Nabi Ibrahim, karena perbuatan itu tidak didasarkan pada alasan yang benar dan ilmu pengetahuan. Maka bukanlah lebih baik dan masuk akal apabila mereka itu mengikuti saja wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang memang betul-betul datang dari Allah yang mempunyai pengetahuan yang luas tak terbatas. Karena itu Allah menegaskan kepada mereka bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang nyata maupun yang tidak nyata, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Hal ini menunjukkan adanya pengertian bahwa mengenai hal-hal yang bersifat gaib, seharusnyalah orang tidak memperdebatkan dan tidak membenarkannya kecuali yang telah diterangkan oleh wahyu. Dengan perkataan lain pengetahuan manusia dibatasi oleh ruang lingkup, waktu dan tempat, sedangkan pengetahuan Allah swt tidak terkait dengan ketentuan-ketentuan tersebut.