Skip to main content

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ  ( ٱلرُّوم: ٤١ )

ẓahara
ظَهَرَ
telah nampak
l-fasādu
ٱلْفَسَادُ
kerusakan
فِى
di
l-bari
ٱلْبَرِّ
darat
wal-baḥri
وَٱلْبَحْرِ
dan di laut
bimā
بِمَا
dengan apa/sebab
kasabat
كَسَبَتْ
perbuatan
aydī
أَيْدِى
tangan-tangan
l-nāsi
ٱلنَّاسِ
manusia
liyudhīqahum
لِيُذِيقَهُم
untuk Dia merasakan kepada mereka
baʿḍa
بَعْضَ
sebagian
alladhī
ٱلَّذِى
yang
ʿamilū
عَمِلُوا۟
mereka perbuat
laʿallahum
لَعَلَّهُمْ
agar mereka
yarjiʿūna
يَرْجِعُونَ
mereka kembali

“Žahara Al-Fasādu Fī Al-Barri Wa Al-Baĥri Bimā Kasabat 'Aydī An-Nāsi Liyudhīqahum Ba`đa Al-Ladhī `Amilū La`allahum Yarji`ūna.” (ar-Rūm/30:41)

Artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Bila pada ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan sifat buruk orang musyrik Mekah yang menuhankan hawa nafsu, melalui ayat ini Allah menegaskan bahwa kerusakan di bumi adalah akibat mempertuhankan hawa nafsu. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, baik kota maupun desa, disebabkan karena perbuatan tangan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan jauh dari tuntunan fitrah. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan buruk mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar dengan menjaga kesesuaian perilakunya dengan fitrahnya.