Skip to main content

اَفْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَمْ بِهٖ جِنَّةٌ ۗبَلِ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ فِى الْعَذَابِ وَالضَّلٰلِ الْبَعِيْدِ   ( سَبَأ: ٨ )

aftarā
أَفْتَرَىٰ
apakah dia mengada-adakan
ʿalā
عَلَى
atas
l-lahi
ٱللَّهِ
Allah
kadhiban
كَذِبًا
kebohongan
am
أَم
ataukah
bihi
بِهِۦ
dengannya/padanya
jinnatun
جِنَّةٌۢۗ
penyakit gila
bali
بَلِ
bahkan/tetapi
alladhīna
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
لَا
tidak
yu'minūna
يُؤْمِنُونَ
beriman
bil-ākhirati
بِٱلْءَاخِرَةِ
kepada akhirat
فِى
dalam
l-ʿadhābi
ٱلْعَذَابِ
siksaan
wal-ḍalāli
وَٱلضَّلَٰلِ
dan kesesatan
l-baʿīdi
ٱلْبَعِيدِ
jauh

“'Āftaraá `Alaá Allāhi Kadhibāan 'Am Bihi Jinnatun Bal Al-Ladhīna Lā Yu'uminūna Bil-'Ākhirati Fī Al-`Adhābi Wa Ađ-Đalāli Al-Ba`īdi.” (Sabaʾ/34:8)

Artinya:

“Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau sakit gila?” (Tidak), tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat itu berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh.” (QS. Saba': 8)

Lalu teman-teman mereka sesama kafir menimpali dengan balik bertanya guna mempertajam cemoohan mereka, “Apakah dia, yakni Nabi Muhammad, mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau sedang sakit gila?” Tidak! Keduanya itu tidak akan pernah terjadi pada diri Rasulullah, karena Nabi adalah al-Amìn (orang tepercaya) dan beliau pun sama sekali tidak gila, tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat itu kelak di akhirat berada dalam siksaan dan ketika di dunia berada dalam kesesatan yang jauh, sehingga mereka menolak keniscayaan hari Kiamat dan mengingkari kebenaran Al-Qur’an.