Skip to main content

وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِهٖ ۚوَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًاۚ   ( ٱلنِّسَاء: ١٥٩ )

wa-in
وَإِن
dan tidak
min
مِّنْ
dari
ahli
أَهْلِ
ahli
l-kitābi
ٱلْكِتَٰبِ
kitab
illā
إِلَّا
kecuali
layu'minanna
لَيُؤْمِنَنَّ
benar-benar ia akan beriman
bihi
بِهِۦ
dengannya/kepadanya
qabla
قَبْلَ
sebelum
mawtihi
مَوْتِهِۦۖ
kematiannya
wayawma
وَيَوْمَ
dan hari
l-qiyāmati
ٱلْقِيَٰمَةِ
kiamat
yakūnu
يَكُونُ
adalah ia (Isa)
ʿalayhim
عَلَيْهِمْ
atas/terhadap mereka
shahīdan
شَهِيدًا
menjadi saksi

“Wa 'In Min 'Ahli Al-Kitābi 'Illā Layu'uminanna Bihi Qabla Mawtihi Wa Yawma Al-Qiyāmati Yakūnu `Alayhim Shahīdāan.” (an-Nisāʾ/4:159)

Artinya:

“Tidak ada seorang pun di antara Ahli Kitab yang tidak beriman kepadanya (Isa) menjelang kematiannya. Dan pada hari Kiamat dia (Isa) akan menjadi saksi mereka.” (QS. An-Nisa': 159)

Tidak ada seorang pun di antara Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, yang tidak beriman kepadanya, yakni kepada Nabi Isa bahwa beliau adalah utusan Allah, sebelum kematiannya, yakni sebelum kematian dari Ahli Kitab itu. Dan pada hari Kiamat, dia, Nabi Isa, akan menjadi saksi terhadap mereka bahwa beliau adalah utusan Allah, dan tidak pernah menyampaikan kepada umatnya selain apa yang diperintahkan Allah agar disampaikan kepadanya.