Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
يَأْمُرُكُمْ
Dia menyuruh
أَن
untuk
تُؤَدُّوا۟
menyampaikan
ٱلْأَمَٰنَٰتِ
amanat
إِلَىٰٓ
kepada
أَهْلِهَا
yang berhak menerimanya
وَإِذَا
dan apabila
حَكَمْتُم
kamu menetapkan hukum
بَيْنَ
diantara
ٱلنَّاسِ
manusia
أَن
supaya
تَحْكُمُوا۟
kamu menetapkan hukum
بِٱلْعَدْلِۚ
dengan adil
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
نِعِمَّا
sebaik-baiknya
يَعِظُكُم
Dia memberi pelajaran kepadamu
بِهِۦٓۗ
dengannya
إِنَّ
sesunguhnya
ٱللَّهَ
Allah
كَانَ
adlah Dia
سَمِيعًۢا
Maha Mendengar
بَصِيرًا
Maha Melihat

'Inna Allāha Ya'murukum 'An Tu'uaddū Al-'Amānāti 'Ilaá 'Ahlihā Wa 'Idhā Ĥakamtum Bayna An-Nāsi 'An Taĥkumū Bil-`Adli 'Inna Allāha Ni`immā Ya`ižukum Bihi 'Inna Allāha Kāna Samī`āan Başīrāan.

Tafsir Bahasa:

Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.

(58) Ayat ini memerintahkan agar menyampaikan "amanat" kepada yang berhak. Pengertian "amanat" dalam ayat ini, ialah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kata "amanat" dengan pengertian ini sangat luas, meliputi "amanat" Allah kepada hamba-Nya, amanat seseorang kepada sesamanya dan terhadap dirinya sendiri. Amanat Allah terhadap hamba-Nya yang harus dilaksanakan antara lain; melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semua nikmat Allah berupa apa saja hendaklah kita manfaatkan untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Amanat seseorang terhadap sesamanya yang harus dilaksanakan antara lain; mengembalikan titipan kepada yang punya dengan tidak kurang suatu apa pun, tidak menipunya, memelihara rahasia dan lain sebagainya dan termasuk juga di dalamnya ialah; a. Sifat adil penguasa terhadap rakyat dalam bidang apa pun dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain di dalam pelaksanaan hukum, sekalipun terhadap keluarga dan anak sendiri, sebagaimana ditegaskan Allah dalam ayat ini. ¦ Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.... (an-Nisa'/4;58). Dalam hal ini cukuplah Nabi Muhammad saw menjadi contoh. Di dalam satu pernyataannya beliau bersabda; "Andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya saya potong tangannya" (Riwayat asy-Syaikhan dari 'Â'isyah). b. Sifat adil ulama (yaitu orang yang berilmu pengetahuan) terhadap orang awam, seperti menanamkan ke dalam hati mereka akidah yang benar, membimbingnya kepada amal yang bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat, memberikan pendidikan yang baik, menganjurkan usaha yang halal, memberikan nasihat-nasihat yang menambah kuat imannya, menyelamatkan dari perbuatan dosa dan maksiat, membangkitkan semangat untuk berbuat baik dan melakukan kebajikan, mengeluarkan fatwa yang berguna dan bermanfaat di dalam melaksanakan syariat dan ketentuan Allah. c. Sifat adil seorang suami terhadap istrinya, begitu pun sebaliknya, seperti melaksanakan kewajiban masing-masing terhadap yang lain, tidak membeberkan rahasia pihak yang lain, terutama rahasia khusus antara keduanya yang tidak baik diketahui orang lain. Amanat seseorang terhadap dirinya sendiri; seperti berbuat sesuatu yang menguntungkan dan bermanfaat bagi dirinya dalam soal dunia dan agamanya. Janganlah ia membuat hal-hal yang membahayakannya di dunia dan akhirat, dan lain sebagainya. Ajaran yang sangat baik ini yaitu melaksanakan amanah dan hukum dengan seadil-adilnya, jangan sekali-kali diabaikan, tetapi hendaklah diindahkan, diperhatikan dan diterapkan dalam hidup dan kehidupan kita, untuk dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.