Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
أَيْنَمَا
dimana saja
تَكُونُوا۟
kalian menjadi
يُدْرِككُّمُ
akan mendapatkan kamu
ٱلْمَوْتُ
kematian
وَلَوْ
kendatipun
كُنتُمْ
kalian adalah
فِى
di dalam
بُرُوجٍ
benteng
مُّشَيَّدَةٍۗ
yang kokoh
وَإِن
dan jika
تُصِبْهُمْ
menimpa mereka
حَسَنَةٌ
kebaikan
يَقُولُوا۟
mereka berkata
هَٰذِهِۦ
ini
مِنْ
dari
عِندِ
sisi
ٱللَّهِۖ
Allah
وَإِن
dan jika
تُصِبْهُمْ
menimpa mereka
سَيِّئَةٌ
kejahatan/bencana
يَقُولُوا۟
mereka berkata
هَٰذِهِۦ
ini
مِنْ
dari
عِندِكَۚ
sisi kamu
قُلْ
katakan
كُلٌّ
semuanya
مِّنْ
dari
عِندِ
sisi
ٱللَّهِۖ
Allah
فَمَالِ
maka mengapa
هَٰٓؤُلَآءِ
mereka itu
ٱلْقَوْمِ
kaum
لَا
tidak
يَكَادُونَ
mereka hampir
يَفْقَهُونَ
mereka memahami
حَدِيثًا
pembicaraan

'Aynamā Takūnū Yudrikkum Al-Mawtu Wa Law Kuntum Fī Burūjin Mushayyadatin Wa 'In Tuşibhum Ĥasanatun Yaqūlū Hadhihi Min `Indi Allāhi Wa 'In Tuşibhum Sayyi'atun Yaqūlū Hadhihi Min `Indika Qul Kullun Min `Indi Allāhi Famāli Hā'uulā' Al-Qawmi Lā Yakādūna Yafqahūna Ĥadīthāan.

Tafsir Bahasa:

Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka mengatakan, “Ini dari engkau (Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?”

(78) Maut (mati) adalah suatu hal yang pasti datangnya. Tidak seorang pun yang dapat lepas dari padanya di manapun dia berada meskipun berlindung di dalam benteng yang kokoh kuat. Karena itu tidaklah wajar manusia takut mati meskipun ia berada di dalam kancah peperangan. Jika sampai ajalnya, tentulah ia mati, meskipun ia hidup mewah di dalam istana atau bertahan di dalam benteng yang kokoh. Ayat ini merupakan kecaman Allah terhadap segolongan kaum Muslimin yang tidak mempunyai semangat juang untuk membela kebenaran, mereka tak mau berperang karena takut mati. Sikap pengecut dan kemunafikan mereka itu tidak lain disebabkan kelemahan iman dan piciknya pikiran mereka. Selanjutnya digambarkan kepicikan akal mereka yang tidak mau berperang karena takut mati. Sikap pengecut mereka anggap sebagai karunia dari Allah sedang malapetaka yang menimpa mereka adalah karena datangnya Muhammad ke Medinah, sehingga musim kemarau yang menimpa kota Medinah mereka anggap sebagai musibah yang ditimbulkan oleh kedatangan Nabi Muhammad dan kesialannya. Adapun orang yang beriman ia tetap berpendirian bahwa baik dan buruk adalah datangnya dari Allah. Pendirian seperti inilah yang Allah perintahkan kepada Muhammad agar disampaikan kepada mereka. Sekiranya mereka tidak dapat memahaminya, mereka akan tetap sepanjang masa di dalam kegelapan. Jika mereka dapat memahaminya tentulah mereka tidak akan mengatakan bahwa hal yang buruk itu dikarenakan celanya seseorang, tetapi baik dan buruk itu akan mereka ketahui erat hubungannya dengan sebab musabab yang telah menjadi sunah Allah.