Skip to main content

حَتّٰىٓ اِذَا مَا جَاۤءُوْهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَاَبْصَارُهُمْ وَجُلُوْدُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ   ( فُصِّلَت: ٢٠ )

ḥattā
حَتَّىٰٓ
sehingga
idhā
إِذَا
apabila
مَا
apa-apa
jāūhā
جَآءُوهَا
mereka datang kepadanya
shahida
شَهِدَ
menjadi saksi
ʿalayhim
عَلَيْهِمْ
atas mereka
samʿuhum
سَمْعُهُمْ
pendengaran mereka
wa-abṣāruhum
وَأَبْصَٰرُهُمْ
dan penglihatan mereka
wajulūduhum
وَجُلُودُهُم
dan kulit-kulit mereka
bimā
بِمَا
tentang apa
kānū
كَانُوا۟
adalah mereka
yaʿmalūna
يَعْمَلُونَ
mereka kerjakan

“Ĥattaá 'Idhā Mā Jā'ūhā Shahida `Alayhim Sam`uhum Wa 'Abşāruhum Wa Julūduhum Bimā Kānū Ya`malūna.” (Fuṣṣilat/41:20)

Artinya:

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.” (QS. Fussilat: 20)

Sehingga apabila mereka, para musuh Allah itu, sampai ke depan pintu neraka, lalu diajukanlah kepada mereka pertanyaan tentang dosa-dosa yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Akan tetapi, mereka mengingkarinya dan tidak mengakui perbuatan dosa itu. Maka, Allah mengambil anggota badan mereka, seperti pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia itu.