Skip to main content

فَكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ بِاٰيٰتِهٖ مُؤْمِنِيْنَ   ( ٱلْأَنْعَام: ١١٨ )

fakulū
فَكُلُوا۟
maka makanlah
mimmā
مِمَّا
dari apa (binatang)
dhukira
ذُكِرَ
disebut
us'mu
ٱسْمُ
nama
l-lahi
ٱللَّهِ
Allah
ʿalayhi
عَلَيْهِ
atasnya
in
إِن
jika
kuntum
كُنتُم
kalian adalah
biāyātihi
بِـَٔايَٰتِهِۦ
kepada ayat-ayatNya
mu'minīna
مُؤْمِنِينَ
orang-orang yang beriman

“Fakulū Mimmā Dhukira Asmu Allāhi `Alayhi 'In Kuntum Bi'āyātihi Mu'uminīna.” (al-ʾAnʿām/6:118)

Artinya:

“Maka makanlah dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An'am: 118)

Pada ayat ini dijelaskan tentang persoalan makanan yang banyak diperdebatkan oleh orang-orang musyrik. Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah, "Mengapa kami boleh memakan daging hewan yang kami sembelih sendiri dan tidak boleh memakan hewan yang dimatikan oleh Allah (yakni: bangkai)?" Turunlah ayat ini, Maka makanlah dari apa, yaitu daging hewan, yang ketika disembelih disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. Itu karena keimanan akan mendorong seseorang memakan apa yang dihalalkan dan menjauhi apa yang diharamkan.