Skip to main content

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْٓ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَاَتْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَانَ مِنَ الْغٰوِيْنَ  ( ٱلْأَعْرَاف: ١٧٥ )

wa-ut'lu
وَٱتْلُ
dan bacakanlah
ʿalayhim
عَلَيْهِمْ
atas/kepada mereka
naba-a
نَبَأَ
berita
alladhī
ٱلَّذِىٓ
yang
ātaynāhu
ءَاتَيْنَٰهُ
Kami telah berikan kepadanya
āyātinā
ءَايَٰتِنَا
ayat-ayat Kami
fa-insalakha
فَٱنسَلَخَ
maka dia melepaskan diri
min'hā
مِنْهَا
daripadanya (ayat-ayat)
fa-atbaʿahu
فَأَتْبَعَهُ
maka/lalu mengikutinya
l-shayṭānu
ٱلشَّيْطَٰنُ
syaitan
fakāna
فَكَانَ
maka dia adalah
mina
مِنَ
dari
l-ghāwīna
ٱلْغَاوِينَ
orang-orang yang sesat

“Wa Atlu `Alayhim Naba'a Al-Ladhī 'Ātaynāhu 'Āyātinā Fānsalakha Minhā Fa'atba`ahu Ash-Shayţānu Fakāna Mina Al-Ghāwīna.” (al-ʾAʿrāf/7:175)

Artinya:

“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat.” (QS. Al-A'raf: 175)

Ayat yang lalu mengisyaratkan bahwa keesaan Allah melekat pada diri manusia, sehingga seharusnya secara fitrah mereka beriman. Tetapi ternyata ada yang durhaka. Di sini Allah mengumpamakan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat yang diturunkan kepada rasul-Nya, dan berkata, "Bacakanlah wahai Nabi Muhammad, kepada mereka, berita atau kisah tentang orang yang telah Kami berikan ayatayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, tidak mempedulikannya dan tidak mengamalkan pesan ayat-ayat itu, melepaskan apa yang melekat pada dirinya bagaikan ular melepaskan kulitnya, maka dia diikuti oleh setan sampai dia tergoda, sehingga jadilah dia termasuk kelompok orang yang sesat.