Skip to main content

شَاكِرًا لِّاَنْعُمِهِ ۖاجْتَبٰىهُ وَهَدٰىهُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ   ( ٱلنَّحْل: ١٢١ )

shākiran
شَاكِرًا
yang mensyukuri
li-anʿumihi
لِّأَنْعُمِهِۚ
kepada nikmatnya
ij'tabāhu
ٱجْتَبَىٰهُ
Dia memilihnya
wahadāhu
وَهَدَىٰهُ
dan Dia memberi petunjuk kepadanya
ilā
إِلَىٰ
kepada
ṣirāṭin
صِرَٰطٍ
jalan
mus'taqīmin
مُّسْتَقِيمٍ
lurus

“Shākirāan Li'n`umihi Ajtabāhu Wa Hadāhu 'Ilaá Şirāţin Mustaqīm.” (an-Naḥl/16:121)

Artinya:

“dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl: 121)

Nabi Ibrahim bukan sekadar sosok panutan, dia juga senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat-Nya baik secara lisan maupun perbuatan. Allah telah memilihnya sebagai teladan dan panutan yang sempurna, baik sebagai imam maupun sebagai nabi dan rasul, dan menunjukinya dengan bimbingan dan petunjuk-Nya ke jalan yang lurus.