Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
مَثَلُهُمْ
perumpamaan mereka
كَمَثَلِ
seperti umpama
ٱلَّذِى
orang yang
ٱسْتَوْقَدَ
menyalakan
نَارًا
api
فَلَمَّآ
maka setelah
أَضَآءَتْ
menerangi
مَا
apa
حَوْلَهُۥ
disekelilingnya
ذَهَبَ
menghilangkan
ٱللَّهُ
Allah
بِنُورِهِمْ
dengan cahaya mereka
وَتَرَكَهُمْ
dan membiarkan mereka
فِى
dalam
ظُلُمَٰتٍ
kegelapan
لَّا
tidak
يُبْصِرُونَ
mereka melihat

Mathaluhum Kamathali Al-Ladhī Astawqada Nārāan Falammā 'Ađā'at Mā Ĥawlahu Dhahaba Allāhu Binūrihim Wa Tarakahum Fī Žulumātin Lā Yubşirūna.

Tafsir Bahasa:

Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

(17) Ayat ini memberikan gambaran lain tentang orang-orang munafik seperti disebutkan pada ayat-ayat terdahulu dengan perumpamaan yang nyata. Orang-orang munafik yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang munafik dari ahli kitab (orang-orang Yahudi). Mereka itu telah beriman kepada kitab-kitab dan rasul-rasul yang telah lalu, maka seharusnya mereka beriman pula kepada Al-Qur'an dan Nabi Muhammad saw, karena kedatangan Nabi Muhammad itu telah disebutkan dalam kitab-kitab mereka. Akan tetapi disebabkan mereka dipengaruhi oleh kebesaran mereka di masa lampau, mereka tidak mau beriman. Tak ubahnya mereka itu seperti orang yang menyalakan api untuk menyinari tempat sekitarnya, tiba-tiba api itu padam, sehingga mereka berada dalam gelap gulita. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti. (al-Munafiqun/63; 3)