Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
وَلَا
dan jangan
تَنكِحُوا۟
kamu nikahi
ٱلْمُشْرِكَٰتِ
wanita-wanita musyrik
حَتَّىٰ
sehingga
يُؤْمِنَّۚ
mereka beriman
وَلَأَمَةٌ
dan sungguh budak wanita
مُّؤْمِنَةٌ
beriman
خَيْرٌ
baik
مِّن
daripada
مُّشْرِكَةٍ
wanita musyrik
وَلَوْ
walaupun
أَعْجَبَتْكُمْۗ
ia menarik hatimu
وَلَا
dan jangan
تُنكِحُوا۟
kamu menikahkan
ٱلْمُشْرِكِينَ
orang-orang musyrik
حَتَّىٰ
sehingga
يُؤْمِنُوا۟ۚ
mereka beriman
وَلَعَبْدٌ
dan sungguh budak
مُّؤْمِنٌ
beriman
خَيْرٌ
lebih baik
مِّن
daripada
مُّشْرِكٍ
orang musyrik
وَلَوْ
walaupun
أَعْجَبَكُمْۗ
dia menarik hatimu
أُو۟لَٰٓئِكَ
mereka itu
يَدْعُونَ
mereka mengajak
إِلَى
kepada
ٱلنَّارِۖ
neraka
وَٱللَّهُ
dan Allah
يَدْعُوٓا۟
Dia mengajak
إِلَى
kepada
ٱلْجَنَّةِ
surga
وَٱلْمَغْفِرَةِ
dan ampunan
بِإِذْنِهِۦۖ
dengan izinNya
وَيُبَيِّنُ
dan Dia menerangkan
ءَايَٰتِهِۦ
ayat-ayatNya
لِلنَّاسِ
kepada manusia
لَعَلَّهُمْ
supaya mereka
يَتَذَكَّرُونَ
mereka ingat / mengambil pelajaran

Wa Lā Tankiĥū Al-Mushrikāti Ĥattaá Yu'uminna Wa La'amatun Mu'uminatun Khayrun Min Mushrikatin Wa Law 'A`jabatkum Wa Lā Tunkiĥū Al-Mushrikīna Ĥattaá Yu'uminū Wa La`abdun Mu'uminun Khayrun Min Mushrikin Wa Law 'A`jabakum 'Ūlā'ika Yad`ūna 'Ilaá An-Nāri Wa Allāhu Yad`ū 'Ilaá Al-Jannati Wa Al-Maghfirati Bi'idhnihi Wa Yubayyinu 'Āyātihi Lilnnāsi La`allahum Yatadhakkarūna.

Tafsir Bahasa:

Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.

(221) Di dalam ayat ini ditegaskan larangan bagi seorang Muslim mengawini perempuan musyrik dan larangan mengawinkan perempuan mukmin dengan laki-laki musyrik, kecuali kalau mereka telah beriman. Walaupun mereka itu cantik dan rupawan, gagah, kaya, dan sebagainya, budak perempuan atau budak laki-laki yang mukmin lebih baik untuk dikawini daripada mereka. Dari pihak perempuan yang beriman tidak sedikit pula jumlahnya yang cantik, menarik hati, dan berakhlak. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda; Jangan kamu mengawini perempuan karena kecantikannya, mungkin kecantikan itu akan membinasakan mereka, janganlah kamu mengawini mereka karena harta kekayaannya, mungkin harta kekayaan itu akan menyebabkan mereka durhaka dan keras kepala. Tetapi kawinilah mereka karena agamanya (iman dan akhlaknya). Budak perempuan yang hitam, tetapi beragama, lebih baik dari mereka yang tersebut di atas. (Riwayat Ibnu Majah dari Abdullah bin 'Umar). Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda; Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama, maka engkau akan beruntung. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) Perkawinan erat hubungannya dengan agama. Orang musyrik bukan orang beragama, mereka menyembah selain Allah. Dalam soal perkawinan dengan orang musyrik ada batas larangan yang kuat, tetapi dalam soal pergaulan, bermasyarakat itu biasa saja. Sebab perkawinan erat hubungannya dengan keturunan dan keturunan erat hubungannya dengan harta warisan, makan dan minum, dan ada hubungannya dengan pendidikan dan pembangunan Islam. Perkawinan dengan orang musyrik dianggap membahayakan seperti diterangkan di atas, maka Allah melarang mengadakan hubungan perkawinan dengan mereka. Golongan orang musyrik itu akan selalu menjerumuskan umat Islam ke dalam bahaya di dunia, dan menjerumuskannya ke dalam neraka di akhirat, sedang ajaran-ajaran Allah kepada orang-orang mukmin selalu membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.