Skip to main content

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ مَسْكُوْنَةٍ فِيْهَا مَتَاعٌ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا تَكْتُمُوْنَ  ( ٱلنُّور: ٢٩ )

laysa
لَّيْسَ
tidaklah
ʿalaykum
عَلَيْكُمْ
atas kalian
junāḥun
جُنَاحٌ
berdosa
an
أَن
bahwa
tadkhulū
تَدْخُلُوا۟
kamu memasuki
buyūtan
بُيُوتًا
rumah-rumah
ghayra
غَيْرَ
tidak
maskūnatin
مَسْكُونَةٍ
dihuni/didiami
fīhā
فِيهَا
didalamnya
matāʿun
مَتَٰعٌ
kesenangan/keperluan
lakum
لَّكُمْۚ
bagi kalian
wal-lahu
وَٱللَّهُ
dan Allah
yaʿlamu
يَعْلَمُ
Dia mengetahui
مَا
apa
tub'dūna
تُبْدُونَ
kamu nyatakan
wamā
وَمَا
dan apa
taktumūna
تَكْتُمُونَ
kamu sembunyikan

“Laysa `Alaykum Junāĥun 'An Tadkhulū Buyūtāan Ghayra Maskūnatin Fīhā Matā`un Lakum Wa Allāhu Ya`lamu Mā Tubdūna Wa Mā Taktumūna.” (an-Nūr/24:29)

Artinya:

“Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentingan kamu; Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (QS. An-Nur: 29)

Usai menjelaskan etika memasuki rumah yang berpenghuni pada ayat-ayat sebelumnya, Allah lalu menguraikan etika memasuki rumah yang tak berpenghuni atau bangunan yang disediakan untuk umum. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni yang tidak dibuat untuk tempat tinggal pribadi secara tetap, seperti masjid, kedai, dan pasar, yang di dalamnya ada kepentingan kamu, misalnya untuk beristirahat atau keperluan lain. Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan dalam dada, termasuk niat baik atau buruk kamu.