Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
وَٱلَّذِينَ
dan orang-orang yang
إِذَا
apabila
فَعَلُوا۟
mereka mengerjakan
فَٰحِشَةً
perbuatan keji
أَوْ
atau
ظَلَمُوٓا۟
mereka menganiaya
أَنفُسَهُمْ
diri mereka sendiri
ذَكَرُوا۟
mereka ingat
ٱللَّهَ
Allah
فَٱسْتَغْفَرُوا۟
maka/lalu mereka memohon ampun
لِذُنُوبِهِمْ
terhadap dosa-dosa mereka
وَمَن
dan siapakah
يَغْفِرُ
(yang) mengampuni
ٱلذُّنُوبَ
dosa-dosa itu
إِلَّا
kecuali/selain
ٱللَّهُ
Allah
وَلَمْ
dan tidak
يُصِرُّوا۟
mereka terus (tetap)
عَلَىٰ
atas/terhadap
مَا
apa
فَعَلُوا۟
mereka kerjakan
وَهُمْ
dan/sedang mereka
يَعْلَمُونَ
(mereka) mengetahui

Wa Al-Ladhīna 'Idhā Fa`alū Fāĥishatan 'Aw Žalamū 'Anfusahum Dhakarū Allāha Fāstaghfarū Lidhunūbihim Wa Man Yaghfiru Adh-Dhunūba 'Illā Allāhu Wa Lam Yuşirrū `Alaá Mā Fa`alū Wa Hum Ya`lamūna.

Tafsir Bahasa:

dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Kelima; (135) Orang yang mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri kemudian mereka segera meminta ampun kepada Allah dan tidak mengulangi lagi perbuatan itu. Para mufasir membedakan antara perbuatan keji (fahisyah) dengan menganiaya diri sendiri (dhulm). Mereka mengatakan, perbuatan keji ialah perbuatan yang bahayanya tidak saja menimpa orang yang berbuat dosa tetapi juga menimpa orang lain dan masyarakat. Menganiaya diri sendiri ialah berbuat dosa yang bahayanya hanya dirasakan oleh orang yang mengerjakan saja. Perbuatan keji seperti berzina, berjudi, memfitnah dan sebagainya. Perbuatan menganiaya diri sendiri seperti memakan makanan yang haram, memboroskan harta benda, menyia-nyiakannya dan sebagainya. Mungkin seorang Muslim telanjur mengerjakan dosa besar karena kurang kuat imannya, karena godaan setan atau karena sebab-sebab lain, tetapi ia segera insaf dan menyesal atas perbuatannya kemudian ia memohon ampun kepada Allah dan bertobat dengan sebenar-benar tobat serta berjanji kepada diri sendiri tidak akan mengerjakannya lagi. Maka Allah akan menerima tobatnya dan mengampuni dosanya karena Allah adalah Maha Penerima tobat dan Maha Pengampun. Bila seseorang berbuat dosa meskipun yang diperbuatnya itu bukan dosa besar tetapi mengerjakan terus menerus tanpa ada kesadaran hendak menghentikannya dan tidak ada penyesalan serta keinginan hendak bertobat kepada Allah, maka dosanya itu menjadi dosa besar. Nabi Muhammad saw pernah bersabda; "Dosa besar tidak menjadi dosa besar bila segera meminta ampun (kepada Allah). Dan dosa kecil akan menjadi dosa besar bila selalu dikerjakan." (Riwayat ad-Dailami dari Ibnu Abbas). Meminta ampun kepada Allah bukan sekadar mengucapkan kalimat "Aku memohon ampunan kepada Allah", tetapi harus disertai dengan penyesalan serta janji kepada diri sendiri tidak akan mengerjakan dosa itu lagi. Inilah yang dinamakan tobat nasuha, tobat yang diterima oleh Allah.