Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
إِنَّ
sesungguhnya
مَثَلَ
perumpamaan
عِيسَىٰ
Isa
عِندَ
di sisi
ٱللَّهِ
Allah
كَمَثَلِ
seperti perumpamaan
ءَادَمَۖ
Adam
خَلَقَهُۥ
Dia menjadikannya
مِن
dari
تُرَابٍ
tanah
ثُمَّ
kemudian
قَالَ
Dia berfirman
لَهُۥ
kepadanya
كُن
jadilah
فَيَكُونُ
maka jadilah dia

'Inna Mathala `Īsaá `Inda Allāhi Kamathali 'Ādama Khalaqahu Min Turābin Thumma Qāla Lahu Kun Fayakūnu.

Tafsir Bahasa:

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

(59) Ayat ini diturunkan sehubungan dengan kedatangan utusan Nasrani Najran yang berkata kepada Rasulullah saw, "Mengapa engkau mencela Nabi kami?" Rasulullah bersabda, "Apakah yang telah saya katakan?" Mereka menjawab, "Engkau berkata bahwasanya Isa adalah seorang hamba Allah". Nabi Muhammad bersabda, "Ya, benar dia adalah seorang hamba Allah, rasul dan kalimat-Nya yang telah disampaikan kepada Maryam, seorang perawan suci." Kemudian mereka menjadi marah dan berkata, "Pernahkah engkau melihat manusia dilahirkan tanpa ayah? Maka apabila engkau benar tunjukkanlah kepada kami contohnya." Lalu Allah menurunkan ayat ini. Pada ayat ini dijelaskan bahwa sebenarnya kejadian Isa yang menakjubkan itu adalah seperti penciptaan Adam, yang dijadikan dari tanah, keduanya diciptakan Allah dengan cara yang lain dari penciptaan manusia biasa. Segi persamaan itu ialah Isa diciptakan tanpa ayah, dan Adam diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu. Keingkaran orang terhadap kejadian Isa tanpa ayah, sedang ia mengakui kejadian Adam tanpa ibu dan bapak, termasuk sesuatu yang bertentangan dengan logika. Allah menciptakan Adam sebagai manusia dengan memberi roh ke dalam jasadnya, semata-mata karena kehendak-Nya dan bila Allah berfirman; "Jadilah maka jadilah ia." (Ali Imran/3; 59) pada ayat yang lain Allah berfirman ; ¦ Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. ¦ (al-Mu'minun/23; 14). Ayat di atas (59) merupakan satu rangkaian dengan dua ayat berikutnya, turun pada tahun perutusan, tahun ke-10 Hijri.