Skip to main content

۞ لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا   ( ٱلنِّسَاء: ١٤٨ )

لَّا
tidak
yuḥibbu
يُحِبُّ
menyukai
l-lahu
ٱللَّهُ
Allah
l-jahra
ٱلْجَهْرَ
terus terang
bil-sūi
بِٱلسُّوٓءِ
dengan/pada yang buruk
mina
مِنَ
dari
l-qawli
ٱلْقَوْلِ
ucapan
illā
إِلَّا
kecuali
man
مَن
orang
ẓulima
ظُلِمَۚ
teraniaya
wakāna
وَكَانَ
dan adalah
l-lahu
ٱللَّهُ
Allah
samīʿan
سَمِيعًا
Maha Mendengar
ʿalīman
عَلِيمًا
Maha Mengetahui

“Lā Yuĥibbu Allāhu Al-Jahra Bis-Sū'i Mina Al-Qawli 'Illā Man Žulima Wa Kāna Allāhu Samī`āan `Alīmāan.” (an-Nisāʾ/4:148)

Artinya:

“Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa': 148)

Pada ayat sebelumnya Allah menerangkan orang-orang munafik dan keburukan sifat mereka. Uraian itu dapat menimbulkan kebencian dan mengundang caci maki dari kalangan kaum muslim. Maka ayat ini memberikan tuntunan kepada kaum muslim terkait dengan kata-kata yang buruk. Allah tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan secara terus terang, kecuali diucapkan secara terpaksa oleh orang yang dizalimi; dalam keadaan itu dibenarkan baginya mengucapkannya dalam batasbatas tertentu. Dan Allah Maha Mendengar, ucapan yang baik maupun yang buruk, yang diucapkan secara rahasia maupun terang-terangan, lagi Maha Mengetahui, segala sesuatu yang diperbuat hamba-Nya.