Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
يَسْتَفْتُونَكَ
mereka akan meminta fatwa kepadamu
قُلِ
katakanlah
ٱللَّهُ
Allah
يُفْتِيكُمْ
memberi fatwa kepadamu
فِى
dalam/tentang
ٱلْكَلَٰلَةِۚ
kalalah
إِنِ
jika
ٱمْرُؤٌا۟
seseorang
هَلَكَ
binasa/meninggal
لَيْسَ
tidak ada
لَهُۥ
baginya
وَلَدٌ
seorang anak
وَلَهُۥٓ
dan baginya
أُخْتٌ
saudara perempuan
فَلَهَا
maka baginya
نِصْفُ
seperdua
مَا
apa (harta)
تَرَكَۚ
tinggalkan
وَهُوَ
dan ia (saudara laki-laki)
يَرِثُهَآ
mewarisinya (harta saudara perempuan)
إِن
jika
لَّمْ
tidak
يَكُن
adalah
لَّهَا
baginya/mempunyai
وَلَدٌۚ
anak laki-laki
فَإِن
maka jika
كَانَتَا
adalah keduanya
ٱثْنَتَيْنِ
dua orang
فَلَهُمَا
maka bagi keduanya
ٱلثُّلُثَانِ
dua pertiga
مِمَّا
daripada apa/harta
تَرَكَۚ
ia tinggalkan
وَإِن
dan jika
كَانُوٓا۟
adalah mereka
إِخْوَةً
beberapa saudara
رِّجَالًا
laki-laki
وَنِسَآءً
dan perempuan
فَلِلذَّكَرِ
maka bagi laki-laki
مِثْلُ
seperti (sebanyak)
حَظِّ
bagian
ٱلْأُنثَيَيْنِۗ
dua saudara perempuan
يُبَيِّنُ
menerangkan
ٱللَّهُ
Allah
لَكُمْ
bagi kalian
أَن
supaya tidak
تَضِلُّوا۟ۗ
kamu tersesat
وَٱللَّهُ
dan Allah
بِكُلِّ
dengan/terhadap segala
شَىْءٍ
sesuatu
عَلِيمٌۢ
Maha Mengetahui

Yastaftūnaka Qul Allāhu Yuftīkum Fī Al-Kalālati 'In Amru'uun Halaka Laysa Lahu Waladun Wa Lahu 'Ukhtun Falahā Nişfu Mā Taraka Wa Huwa Yarithuhā 'In Lam Yakun Lahā Waladun Fa'in Kānatā Athnatayni Falahumā Ath-Thuluthāni Mimmā Taraka Wa 'In Kānū 'Ikhwatan Rijālāan Wa Nisā'an Falildhdhakari Mithlu Ĥažži Al-'Unthayayni Yubayyinu Allāhu Lakum 'An Tađillū Wa Allāhu Bikulli Shay'in `Alīmun

Tafsir Bahasa:

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(176) Pada akhir ayat 12 surah ini, ada pula hukum waris kalalah, maka al-Khattabi berkata tentang kedua ayat kalalah ini; Allah telah menurunkan dua ayat kalalah pada permulaan Surah an-Nisa' namun ayat itu masih bersifat umum dan belum jelas, kalau dilihat dari bunyi ayat itu saja, maka Allah menurunkan lagi ayat kalalah di musim panas yaitu ayat terakhir dari Surah an-Nisa'. Pada ayat ini terdapat tambahan keterangan mengenai apa yang belum dijelaskan pada ayat pertama, karena itu ketika Umar bin al-Khattab ditanya tentang ayat kalalah yang turun pertama kali, ia menyuruh penanya itu untuk memperhatikan ayat kalalah kedua. Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya menjawab pertanyaan yang dikemukakan orang kepadanya mengenai pusaka kalalah, seperti halnya Jabir bin Abdullah yang tidak lagi mempunyai bapak dan anak, sedang dia mempunyai saudara-saudara perempuan yang bukan saudara seibu. Karena saudara perempuan yang bukan seibu belum ada ditetapkan untuk mereka bagian tertentu dalam harta pusaka, sedang saudara seibu ditetapkan bagiannya yaitu seperenam jika saudara perempuan itu seorang saja, sepertiga bila lebih dari seorang. Pusaka yang sepertiga itu dibagi rata antara saudara-saudara perempuan seibu, berapa pun banyaknya mereka, karena pusaka itu adalah pusaka yang menjadi hak ibu mereka kalau ibunya masih hidup. Jawaban yang diperintahkan Allah kepada Nabi-Nya tentang masalah ini ialah bahwa bila seseorang meninggal, sedang ia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan seibu sebapak atau sebapak saja maka saudara perempuan itu mendapat seperdua dari harta yang ditinggalkannya, jika saudara itu seorang saja. Bila saudara perempuannya itu mati lebih dahulu, dan tidak pula mempunyai bapak yang menghijab (menghalanginya) dia berhak mewarisi harta yang ditinggalkannya. Dia berhak mewarisi seluruh harta peninggalan saudara perempuannya bila tidak ada orang yang berhak atas pusaka itu yang telah ditentukan bagiannya (ashabul furudh). Tetapi bila ada orang yang berhak yang telah ditentukan bagiannya seperti suami, maka diberikan lebih dahulu hak suami itu dan selebihnya menjadi haknya sepenuhnya. Kalau saudara perempuan itu ada berdua, maka kedua saudaranya itu mendapat dua pertiga. Dan bila saudara-saudaranya yang perempuan itu lebih dari dua orang, maka yang dua pertiga itu dibagi rata (sama banyak) antara saudara-saudara itu. Kalau yang ditinggalkannya itu terdiri dari saudara-saudara (seibu sebapak atau sebapak saja) terdiri saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka harta pusaka yang ditinggalkan itu dibagi antara mereka dengan ketentuan bahwa bagian yang laki-laki dua kali bagian yang perempuan, kecuali bila yang ditinggalkannya itu saudara-saudara seibu, maka saudara-saudara seibu mendapat seperenam saja, karena hak itu pada asalnya adalah hak ibu mereka. Kalau tidak karena itu, tentulah mereka tidak berhak sama sekali karena bukan ahli-ahli waris yang berhak mewarisi seluruh harta pusaka. Demikianlah yang ditetapkan Allah mengenai pusaka kalalah, maka wajiblah kaum Muslimin melaksanakan ketetapan-ketetapan itu dengan seksama, agar mereka jangan tersesat dan jangan melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah. Hukum-hukum yang ditetapkan Allah itu adalah untuk kebaikan hamba-Nya, dan ilmu-Nya amat luas meliputi segala sesuatu di dalam alam ini.