Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
يَٰٓأَيُّهَا
wahai
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ءَامَنُوا۟
beriman
لَا
jangan
تَأْكُلُوٓا۟
kamu memakan
أَمْوَٰلَكُم
hartamu
بَيْنَكُم
diantara/sesamamu
بِٱلْبَٰطِلِ
dengan jalan yang batil
إِلَّآ
kecuali
أَن
bahwa
تَكُونَ
kamu adalah
تِجَٰرَةً
(dengan jalan) perniagaan
عَن
saling
تَرَاضٍ
suka
مِّنكُمْۚ
dari/diantara kamu
وَلَا
dan jangan
تَقْتُلُوٓا۟
kamu membunuh
أَنفُسَكُمْۚ
diri kalian sendiri
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
كَانَ
adalah Dia
بِكُمْ
dengan/untuk kalian
رَحِيمًا
Maha Penyayang

Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Lā Ta'kulū 'Amwālakum Baynakum Bil-Bāţili 'Illā 'An Takūna Tijāratan `An Tarāđin Minkum Wa Lā Taqtulū 'Anfusakum 'Inna Allāha Kāna Bikum Raĥīmāan.

Tafsir Bahasa:

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.

(29) Ayat ini melarang mengambil harta orang lain dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar kerelaan bersama. Menurut ulama tafsir, larangan memakan harta orang lain dalam ayat ini mengandung pengertian yang luas dan dalam, antara lain; a. Agama Islam mengakui adanya hak milik pribadi yang berhak mendapat perlindungan dan tidak boleh diganggu gugat. b. Hak milik pribadi, jika memenuhi nisabnya, wajib dikeluarkan zakatnya dan kewajiban lainnya untuk kepentingan agama, negara dan sebagainya. c. Sekalipun seseorang mempunyai harta yang banyak dan banyak pula orang yang memerlukannya dari golongan-golongan yang berhak menerima zakatnya, tetapi harta orang itu tidak boleh diambil begitu saja tanpa seizin pemiliknya atau tanpa menurut prosedur yang sah. Mencari harta dibolehkan dengan cara berniaga atau berjual beli dengan dasar kerelaan kedua belah pihak tanpa suatu paksaan. Karena jual beli yang dilakukan secara paksa tidak sah walaupun ada bayaran atau penggantinya. Dalam upaya mendapatkan kekayaan tidak boleh ada unsur zalim kepada orang lain, baik individu atau masyarakat. Tindakan memperoleh harta secara batil, misalnya mencuri, riba, berjudi, korupsi, menipu, berbuat curang, mengurangi timbangan, suap-menyuap, dan sebagainya. Selanjutnya Allah melarang membunuh diri. Menurut bunyi ayat, yang dilarang dalam ayat ini ialah membunuh diri sendiri, tetapi yang dimaksud ialah membunuh diri sendiri dan membunuh orang lain. Membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, sebab setiap orang yang membunuh akan dibunuh, sesuai dengan hukum kisas. Dilarang bunuh diri karena perbuatan itu termasuk perbuatan putus asa, dan orang yang melakukannya adalah orang yang tidak percaya kepada rahmat dan pertolongan Allah. Kemudian ayat 29 ini diakhiri dengan penjelasan bahwa Allah melarang orang-orang yang beriman memakan harta dengan cara yang batil dan membunuh orang lain, atau bunuh diri. Itu adalah karena kasih sayang Allah kepada hamba-Nya demi kebahagiaan hidup mereka di dunia dan di akhirat.