Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
قَالَ
berfirman
ٱللَّهُ
Allah
إِنِّى
sesungguhnya Aku
مُنَزِّلُهَا
menurunkannya
عَلَيْكُمْۖ
atas kalian
فَمَن
maka barang siapa
يَكْفُرْ
ia ingkar
بَعْدُ
sesudah
مِنكُمْ
diantara kamu
فَإِنِّىٓ
maka sesungguhnya Aku
أُعَذِّبُهُۥ
Aku akan menyiksanya
عَذَابًا
siksaan
لَّآ
belum pernah
أُعَذِّبُهُۥٓ
Aku menyiksanya
أَحَدًا
seorang
مِّنَ
dari
ٱلْعَٰلَمِينَ
semesta alam/ummat manusia

Qāla Allāhu 'Innī Munazziluhā `Alaykum Faman Yakfur Ba`du Minkum Fa'innī 'U`adhdhibuhu `Adhābāan Lā 'U`adhdhibuhu 'Aĥadāan Mina Al-`Ālamīna.

Tafsir Bahasa:

Allah berfirman, “Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam).”

(115) Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah mengabulkan doa tersebut dan menurunkan hidangan sesuai dengan permintaan mereka. Tetapi, dengan syarat bahwa sesudah turunnya hidangan itu, tidak boleh ada di antara mereka yang tetap kafir, atau kembali kafir sesudah beriman, karena mereka telah diberi pelajaran dan keterangan-keterangan tentang kekuasaan dan kebesaran Allah, kemudian diberi pula bukti nyata yang dapat mereka saksikan dengan panca indera mereka sendiri. Apabila masih ada di antara mereka yang kafir maka sepantasnya kemurkaan dan azab Allah ditimpakan kepada mereka, yang melebihi azab yang ditimpakan kepada orang-orang kafir lainnya. Pendapat para ulama beragam mengenai macam makanan yang diturunkan Allah dalam hidangan tersebut. Tetapi masalah tersebut bukanlah masalah yang penting untuk dibicarakan, Al-Qur'an sendiri tidak menyebutkannya. Demikian pula Rasulullah saw. Yang perlu kita perhatikan ialah hubungan sebab akibat, serta isi dan tujuan dari kisah tersebut, untuk dijadikan iktibar dan pelajaran guna memperkokoh iman dan keyakinan kita kepada Allah dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya.