Skip to main content

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ  ( ٱلْأَنْعَام: ٨٢ )

alladhīna
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
āmanū
ءَامَنُوا۟
beriman
walam
وَلَمْ
dan tidak
yalbisū
يَلْبِسُوٓا۟
mereka mencampur adukkan
īmānahum
إِيمَٰنَهُم
iman mereka
biẓul'min
بِظُلْمٍ
dengan kezaliman
ulāika
أُو۟لَٰٓئِكَ
mereka itu
lahumu
لَهُمُ
bagi mereka
l-amnu
ٱلْأَمْنُ
keamanan
wahum
وَهُم
dan mereka
muh'tadūna
مُّهْتَدُونَ
orang-orang yang mendapat petunjuk

“Al-Ladhīna 'Āmanū Wa Lam Yalbisū 'Īmānahum Bižulmin 'Ūlā'ika Lahum Al-'Amnu Wa Hum Muhtadūna.” (al-ʾAnʿām/6:82)

Artinya:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An'am: 82)

Karena sama sekali tidak ada jawaban dari kaum Nabi Ibrahim yang durhaka tersebut, akhirnya Nabi Ibrahim sendiri menegaskan sebuah prinsip penting bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, yakni syirik (Lihat: Surah Luqma n/31: 13), mereka itulah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang mendapat rasa aman dari Allah yang mereka sembah, dan mereka mendapat petunjuk secara sempurna.