Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
أُو۟لَٰٓئِكَ
mereka itulah
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ءَاتَيْنَٰهُمُ
telah Kami berikan kepada mereka
ٱلْكِتَٰبَ
kitab
وَٱلْحُكْمَ
dan hikmat
وَٱلنُّبُوَّةَۚ
dan kenabian
فَإِن
maka jika
يَكْفُرْ
mengingkari
بِهَا
padanya
هَٰٓؤُلَآءِ
mereka ini
فَقَدْ
maka sesungguhnya
وَكَّلْنَا
Kami menyerahkan
بِهَا
padanya (perkara itu)
قَوْمًا
kaum
لَّيْسُوا۟
tidaklah mereka
بِهَا
padanya
بِكَٰفِرِينَ
dengan orang-orang yang ingkar

'Ūlā'ika Al-Ladhīna 'Ātaynāhum Al-Kitāba Wa Al-Ĥukma Wa An-Nubūwata Fa'in Yakfur Bihā Hā'uulā' Faqad Wa Kkalnā Bihā Qawmāan Laysū Bihā Bikāfirīna.

Tafsir Bahasa:

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya.

(89) Allah menegaskan sekali lagi, bahwa nabi-nabi yang berjumlah 18 orang itu akan mendapat hidayah Allah yang dijadikan sebagai pedoman dalam memimpin kaumnya masing-masing. Di antara mereka ada yang diberi Kitab yang memuat pedoman-pedoman hidup di dalam memimpin kaumnya ke jalan yang benar serta kemampuan dalam memutuskan perkara-perkara yang terjadi di antara kaumnya, seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Daud, yang diterangkan Allah dalam firman-Nya; (Ibrahim berdoa), "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh." (asy-Syu'ara'/26; 83) Firman Allah; ¦ kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul. (asy-Syu'ara'/26;21) Firman Allah; "Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil¦" (shad/38; 26) Di antara mereka ada pula yang diberi hikmah dan kenabian untuk menuntun manusia, yaitu mereka yang diutus sezaman dengan Nabi Musa atau sesudahnya, sebelum kedatangan Nabi Isa seperti Harun, Zakaria dan Yahya as. Juga di antara mereka ada yang diberi hikmah di kala masih kecil seperti Yahya, firman Allah; "Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh." Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak ." (Maryam/19; 12) Lebih jelasnya, penyebutan nama para nabi dalam konteks Nabi Ibrahim adalah karena beberapa hal sebagaimana uraian di bawah ini; Para nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat yang lalu, di samping kedudukannya sebagai nabi, juga diberi keistimewaan yang berbeda-beda. Mereka dapat dikelompokkan dalam tiga golongan; Kelompok yang pertama, yang disebut adalah putra Ibrahim yang tidak berpisah dengannya, yaitu Ishak, lalu cucunya yaitu Ya'kub, karena Ya'kub merupakan ayah dari anak cucu pembawa ajaran ilahi. Kemudian Nabi Nuh disisipkan dengan tujuan untuk mengingatkan bahwa betapapun tingginya derajat seseorang, ia tidak boleh melupakan leluhurnya. Apalagi Nabi Nuh adalah kakek kesepuluh Nabi Ibrahim yang paling mulia, karena beliaulah manusia pertama yang melarang penyembahan berhala. Pada ayat 84 disebut nama Nabi Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Nabi Daud dan Sulaiman disebut pertama karena keduanya membangun rumah ibadah (Masjidil Aqsa), seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Ka'bah. Penyebutan Nabi Ayyub dan Yusuf secara berurut karena keduanya, walaupun bukan penguasa, tetapi mempunyai pengaruh dan sangat dekat dengan penguasa. Keduanya digabungkan karena memiliki kesamaan, yaitu masing-masing ditinggal oleh keluarga, walau akhirnya keduanya dapat bertemu kembali. Nabi Musa dan Harun disebut sesudah Yusuf karena Nabi Musa yang dibantu Nabi Harun berhasil menundukkan penguasa pada masanya serta dapat mensejahterakan kaumnya. Setelah menyebut nabi-nabi yang menjadi raja, lalu penguasa bukan raja, dan nabi yang menundukkan penguasa, maka selanjutnya disebut nabi-nabi yang dikalahkan penguasa. Urutan pertama adalah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, karena keduanya dibunuh penguasa pada masanya. Kemudian disebut Nabi Isa dan Nabi Ilyas, karena keduanya akan dibunuh, tetapi berhasil diselamatkan Allah. Akhirnya disebut nama nabi-nabi yang berhubungan dengan kekuasaan, yaitu Ismail, Ilyasa', Yunus dan Lut. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa tiap-tiap nabi yang diberi Kitab tentu diberi pula hikmah atau kearifan sebagai senjata untuk memutuskan perkara di samping diberi nubuwah. Akan tetapi tidak semua Nabi diberi kekuasaan memutus perkara dan diberi Kitab. Allah menegaskan bahwa apabila orang-orang musyrik penduduk Mekah dan orang-orang yang mempunyai sifat yang sama, mengingkari Kitab, hikmah dan kenabian yang diberikan kepada para nabi, maka Allah akan menyerahkan derajat kemuliaan yang dijanjikan itu kepada umat lain yang tidak mengingkari apa yang disampaikan oleh nabi itu. Dimaksudkan dengan orang-orang yang mengingkari keutamaan para nabi ialah orang kafir penduduk Mekah, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak mengingkari ialah penduduk Medinah.