Skip to main content

فَلَمَّآ اٰتٰىهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهٗ شُرَكَاۤءَ فِيْمَآ اٰتٰىهُمَا ۚفَتَعٰلَى اللّٰهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ  ( ٱلْأَعْرَاف: ١٩٠ )

falammā
فَلَمَّآ
maka setelah
ātāhumā
ءَاتَىٰهُمَا
(Allah) memberikan kepada keduanya
ṣāliḥan
صَٰلِحًا
anak saleh
jaʿalā
جَعَلَا
keduanya menjadikan
lahu
لَهُۥ
bagiNya
shurakāa
شُرَكَآءَ
sekutu-sekutu
fīmā
فِيمَآ
terhadap apa
ātāhumā
ءَاتَىٰهُمَاۚ
Dia berikan kepada keduanya
fataʿālā
فَتَعَٰلَى
maka Maha Tinggi
l-lahu
ٱللَّهُ
Allah
ʿammā
عَمَّا
dari apa
yush'rikūna
يُشْرِكُونَ
mereka sekutukan

“Falammā 'Ātāhumā Şāliĥāan Ja`alā Lahu Shurakā'a Fīmā 'Ātāhumā Fata`ālaá Allāhu `Ammā Yushrikūna.” (al-ʾAʿrāf/7:190)

Artinya:

“Maka setelah Dia memberi keduanya seorang anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-A'raf: 190)

Maka setelah Dia, yakni Allah memberi keduanya seorang anak yang sempurna, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya itu, yakni mereka tidak bersyukur. Orang-orang musyrik menjadikan sekutu bagi Tuhan dalam menciptakan anak itu, yaitu bahwa kelahiran anak mereka itu bukan semata-mata karunia Allah, tetapi juga atas berkat berhala-berhala yang mereka sembah. Karena itulah mereka menamakan anak-anak mereka dengan 'Abdul 'Uzza, 'Abdul Manat, Abdusy Syam dan sebagainya. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.