Skip to main content

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ   ( ٱلْأَعْرَاف: ٢٠١ )

inna
إِنَّ
sesungguhnya
alladhīna
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ittaqaw
ٱتَّقَوْا۟
(mereka) bertakwa
idhā
إِذَا
apabila
massahum
مَسَّهُمْ
menimpa mereka
ṭāifun
طَٰٓئِفٌ
was-was
mina
مِّنَ
dari
l-shayṭāni
ٱلشَّيْطَٰنِ
syaitan
tadhakkarū
تَذَكَّرُوا۟
mereka ingat
fa-idhā
فَإِذَا
maka tiba-tiba
hum
هُم
mereka
mub'ṣirūna
مُّبْصِرُونَ
orang-orang yang sadar kembali

“'Inna Al-Ladhīna Attaqaw 'Idhā Massahum Ţā'ifun Mina Ash-Shayţāni Tadhakkarū Fa'idhā Hum Mubşirūna.” (al-ʾAʿrāf/7:201)

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A'raf: 201)

Setelah memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad, kini petunjuk tertuju kepada kaum bertakwa secara umum. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, yang memberi batas pemisah antara diri mereka dengan perbuatan-perbuatan maksiat, sehingga menghalangi masuknya rayuan dan godaan setan yang dapat memalingkan mereka dari perintah Allah, apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat untuk berbuat dosa dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah yang telah memerintahkan untuk taat dan bertobat kepada-Nya, maka ketika itu juga, dengan cepat bagaikan tiba-tiba, mereka melihat dan menyadari kesalahan-kesalahannya.