Skip to main content

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَبَقُوْاۗ اِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَ   ( ٱلْأَنْفَال: ٥٩ )

walā
وَلَا
dan janganlah
yaḥsabanna
يَحْسَبَنَّ
mengira
alladhīna
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
kafarū
كَفَرُوا۟
kafir/ingkar
sabaqū
سَبَقُوٓا۟ۚ
mereka terlepas/lolos
innahum
إِنَّهُمْ
sesungguhnya mereka
لَا
tidak
yuʿ'jizūna
يُعْجِزُونَ
dapat melemahkan

“Wa Lā Yaĥsabanna Al-Ladhīna Kafarū Sabaqū 'Innahum Lā Yu`jizūna.” (al-ʾAnfāl/8:59)

Artinya:

“Dan janganlah orang-orang kafir mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sungguh, mereka tidak dapat melemahkan (Allah).” (QS. Al-Anfal: 59)

Melihat perilaku buruk mereka itulah, Allah mengancam dengan firman-Nya pada ayat ini. Dan janganlah orang-orang kafir itu, baik Yahudi Bani Quraizah, sesuai konteks ayat ini, maupun siapa saja yang merusak perjanjian dan pengkhianatan, mengira bahwa mereka akan dapat lolos menyelamatkan diri dari kekuasaan atau azab Allah sebagai akibat dari sikap pengkhianatan tersebut. Sungguh, mereka tidak dapat melemahkan Allah atau menghindar dari pengawasan-Nya; dan Allah pasti membalasnya dengan balasan yang setimpal. Rangkaian ayat ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa siapa saja yang berlaku khianat dan merusak perjanjian akan menerima laknat Allah, bahkan seandainya ia beragama Islam sekalipun. Karena itu, pengkhianatan dalam konteks apa pun dan dengan alasan apa pun tidak dibenarkan dalam agama.