Skip to main content

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ  ( ٱلْفَجْر: ١٥ )

fa-ammā
فَأَمَّا
maka adapun
l-insānu
ٱلْإِنسَٰنُ
manusia
idhā
إِذَا
apabila
مَا
apa
ib'talāhu
ٱبْتَلَىٰهُ
mengujinya
rabbuhu
رَبُّهُۥ
Tuhannya
fa-akramahu
فَأَكْرَمَهُۥ
lalu Dia memuliakannya
wanaʿʿamahu
وَنَعَّمَهُۥ
dan Dia memberikan nikmat padanya
fayaqūlu
فَيَقُولُ
maka ia akan berkata
rabbī
رَبِّىٓ
Tuhanku
akramani
أَكْرَمَنِ
Dia telah memuliakanku

“Fa'ammā Al-'Insānu 'Idhā Mā Abtalāhu Rabbuhu Fa'akramahu Wa Na``amahu Fayaqūlu Rabbī 'Akramani.” (al-Fajr/89:15)

Artinya:

“Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”” (QS. Al-Fajr: 15)

Ayat ini menjelaskan sifat dasar manusia kafir ketika mendapat kebahagiaan dan kesusahan, yakni bergembira berlebihan saat mendapat kenikmatan dan putus asa ketika tertimpa kesulitan. Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu dia memuliakannya dan memberinya kesenangan serta kenikmatan, baik lahir maupun batin, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Mereka menilai kenikmatan yang diterimanya adalah berkat kemuliaan nya di sisi Allah. Mereka lupa bahwa nikmat itu pada dasarnya salah satu bentuk ujian Allah kepada manusia.