Skip to main content

اِشْتَرَوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِهٖۗ اِنَّهُمْ سَاۤءَ مَاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ   ( ٱلتَّوْبَة: ٩ )

ish'taraw
ٱشْتَرَوْا۟
mereka membeli/menukar
biāyāti
بِـَٔايَٰتِ
dengan ayat-ayat
l-lahi
ٱللَّهِ
Allah
thamanan
ثَمَنًا
harga
qalīlan
قَلِيلًا
sedikit
faṣaddū
فَصَدُّوا۟
maka/lalu mereka menghalangi
ʿan
عَن
dari
sabīlihi
سَبِيلِهِۦٓۚ
jalanNya
innahum
إِنَّهُمْ
sesungguhnya mereka
sāa
سَآءَ
amat buruk
مَا
apa
kānū
كَانُوا۟
adalah mereka
yaʿmalūna
يَعْمَلُونَ
mereka kerjakan

“Ashtaraw Bi'āyāti Allāhi Thamanāan Qalīlāan Faşaddū `An Sabīlihi 'Innahum Sā'a Mā Kānū Ya`malūna.” (at-Tawbah/9:9)

Artinya:

“Mereka memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah, lalu mereka menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 9)

Sikap kefasikan itu juga menjadikan mereka berani memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah, yakni ditukar dengan hal-hal yang bersifat duniawi, padahal ayat-ayat tersebut secara jelas telah menjadi bukti atas keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad. Maka, dengan sikapnya itu sesungguhnya mereka telah menghalang-halangi mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah. Sungguh, sikap yang demikian itu menunjukkan betapa buruknya apa yang mereka kerjakan, yakni perilaku sesat dan menyesatkan.