Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
وَأَتِمُّوا۟
dan sempurnakanlah
ٱلْحَجَّ
ibadah haji
وَٱلْعُمْرَةَ
dan umrah
لِلَّهِۚ
karena Allah
فَإِنْ
maka jika
أُحْصِرْتُمْ
kamu terkepung
فَمَا
maka apa
ٱسْتَيْسَرَ
mudah didapat
مِنَ
dari
ٱلْهَدْىِۖ
binatang kurban
وَلَا
dan jangan
تَحْلِقُوا۟
kamu mencukur
رُءُوسَكُمْ
kepalamu
حَتَّىٰ
sehingga/sebelum
يَبْلُغَ
sampai
ٱلْهَدْىُ
binatang kurban
مَحِلَّهُۥۚ
tempat penyembelihannya
فَمَن
maka barang siapa
كَانَ
adalah
مِنكُم
diantara kamu
مَّرِيضًا
sakit
أَوْ
atau
بِهِۦٓ
dengannya/padanya
أَذًى
gangguan (penyakit)
مِّن
dari
رَّأْسِهِۦ
kepalanya
فَفِدْيَةٌ
maka bayarlah fidyah
مِّن
dari
صِيَامٍ
berpuasa
أَوْ
atau
صَدَقَةٍ
bersedekah
أَوْ
atau
نُسُكٍۚ
berkurban
فَإِذَآ
maka apabila
أَمِنتُمْ
kamu merasa aman
فَمَن
maka barang siapa
تَمَتَّعَ
tamattu'/ingin
بِٱلْعُمْرَةِ
dengan ibadah umrah
إِلَى
kepada (sebelum)
ٱلْحَجِّ
haji
فَمَا
maka apa
ٱسْتَيْسَرَ
mudah didapat
مِنَ
dari
ٱلْهَدْىِۚ
binatang kurban
فَمَن
maka barang siapa
لَّمْ
tidak
يَجِدْ
ia mendapatkan
فَصِيَامُ
maka berpuasalah
ثَلَٰثَةِ
tiga
أَيَّامٍ
hari
فِى
didalam
ٱلْحَجِّ
haji
وَسَبْعَةٍ
dan tujuh
إِذَا
apabila
رَجَعْتُمْۗ
kamu kembali
تِلْكَ
itulah
عَشَرَةٌ
sepuluh
كَامِلَةٌۗ
sempurna
ذَٰلِكَ
demikian itu
لِمَن
bagi orang
لَّمْ
tidak
يَكُنْ
ada
أَهْلُهُۥ
keluarganya
حَاضِرِى
berada
ٱلْمَسْجِدِ
Masjidil
ٱلْحَرَامِۚ
Haram
وَٱتَّقُوا۟
dan bertakwalah
ٱللَّهَ
Allah
وَٱعْلَمُوٓا۟
dan ketahuilah
أَنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
شَدِيدُ
amat berat
ٱلْعِقَابِ
siksa(Nya)

Wa 'Atimmū Al-Ĥajja Wa Al-`Umrata Lillāhi Fa'in 'Uĥşirtum Famā Astaysara Mina Al-Hadyi Wa Lā Taĥliqū Ru'ūsakum Ĥattaá Yablugha Al-Hadyu Maĥillahu Faman Kāna Minkum Marīđāan 'Aw Bihi 'Adhan Min Ra'sihi Fafidyatun Min Şiyāmin 'Aw Şadaqatin 'Aw Nusukin Fa'idhā 'Amintum Faman Tamatta`a Bil-`Umrati 'Ilaá Al-Ĥajji Famā Astaysara Mina Al-Hadyi Faman Lam Yajid Faşiyāmu Thalāthati 'Ayyāmin Fī Al-Ĥajji Wa Sab`atin 'Idhā Raja`tum Tilka `Asharatun Kāmilatun Dhālika Liman Lam Yakun 'Ahluhu Ĥāđirī Al-Masjidi Al-Ĥarāmi Wa Attaqū Allāha Wa A`lamū 'Anna Allāha Shadīdu Al-`Iqābi.

Tafsir Bahasa:

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Tetapi jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib ber-fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barangsiapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (musim) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari). Demikian itu, bagi orang yang keluarganya tidak ada (tinggal) di sekitar Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.

(196) Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima. Haji mulai diwajibkan bagi umat Islam pada tahun ke enam Hijri. Sebelumnya, Rasulullah saw pernah beribadah haji sebagai ibadah sunah. Di samping ibadah haji ada pula ibadah umrah. Kedua-duanya wajib dikerjakan umat Islam, sekali seumur hidup. Ibadah haji dan umrah lebih dari sekali, hukumnya sunah. Namun Imam Malik bin Anas berpendapat bahwa ibadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh. Ibadah haji dan umrah tidak harus segera dikerjakan, boleh dikerjakan bila keadaan telah mengizinkan. Siapa yang mampu mengerjakan ibadah haji dan umrah sebaiknya ia segera menunaikannya. Tempat mengerjakan ibadah haji dan umrah itu hanya di tanah suci Mekah dan sekitarnya. Mereka yang diwajibkan pergi mengerjakan ibadah haji dan umrah ialah mereka yang dalam keadaan sanggup dan mampu, yaitu biaya cukup tersedia, keadaan jasmaniah mengizinkan dan keamanan tidak terganggu. Perbedaan ibadah haji dengan umrah ialah haji rukunnya lima, yaitu; niat, wukuf, thawaf, sa'i, dan tahallul, sedangkan umrah rukunnya hanya empat; niat, thawaf, sa'i, dan tahallul. Amal-amal dalam ibadah haji ada yang merupakan rukun, ada yang wajib dan ada yang sunah. Amal-amal yang merupakan rukun ialah jika ada yang ditinggalkan maka ibadah haji dan umrah tidak sah. Amal-amal yang wajib ialah jika ada yang ditinggalkan, maka dikenakan denda (dam) tetapi haji dan umrah sah. Amal-amal yang sunah jika ada yang ditinggalkan, maka haji dan umrah sah dan tidak dikenakan dam. Di samping itu, ada larangan-larangan bagi orang yang sedang beribadah haji dan umrah. Larangan-larangan itu lazimnya disebut muharramat. Barang siapa melanggar muharramat, dikenakan dam. Besar kecilnya sepadan dengan besar kecilnya muharramat yang dilanggar. Bersetubuh sebelum selesai mengerjakan tawaf ifadhah membatalkan haji dan umrah. Ibadah haji dan umrah mempunyai beberapa segi hukum. Oleh karena itu, siapa yang akan mengamalkan ibadah itu seharusnya lebih dahulu mempelajarinya. Amalan-amalan ini biasa disebut manasik. Ayat 196 ini diturunkan pada waktu diadakan perdamaian Hudaibiah pada tahun ke-6 Hijri sama dengan turunnya ayat 190 tentang izin berperang bagi kaum Muslimin. Ayat ini diturunkan berhubungan dengan ibadah haji dan umrah di mana kaum Muslimin diwajibkan mengerjakan haji dan umrah. Yang dimaksud dengan perintah Allah untuk "menyempurnakan" haji dan umrah, ialah mengerjakannya secara sempurna dan ikhlas karena Allah swt. Ada kemungkinan seseorang yang sudah berniat haji dan umrah terhalang oleh bermacam halangan untuk menyempurnakannya. Dalam hal ini Allah swt memberikan ketentuan sebagai berikut; orang yang telah berihram untuk haji dan umrah lalu dihalangi oleh musuh sehingga haji dan umrahnya tidak dapat diselesaikan, maka orang itu harus menyediakan seekor unta, sapi, atau kambing untuk disembelih. Hewan-hewan itu boleh disembelih, setelah sampai di Mekah, dan mengakhiri ihramnya dengan (mencukur atau menggunting rambut). Mengenai tempat penyembelihan itu ada perbedaan pendapat, ada yang mewajibkan di Tanah Suci Mekah, ada pula yang membolehkan di luar Tanah Suci Mekah. Jika tidak menemukan hewan yang akan disembelih, maka hewan itu dapat diganti dengan makanan seharga hewan itu dan dihadiahkan kepada fakir miskin. Jika tidak sanggup menyedekahkan makanan, maka diganti dengan puasa, tiap-tiap mud makanan itu sama dengan satu hari puasa. Orang-orang yang telah berihram haji atau umrah, kemudian dia sakit atau pada kepalanya terdapat penyakit seperti bisul, dan ia menganggap lebih ringan penderitaannya bila dicukur kepalanya dibolehkan bercukur tetapi harus membayar fidyah dengan berpuasa 3 hari atau bersedekah makanan sebanyak 3 sa' (10,5 liter) kepada orang miskin, atau berfidyah dengan seekor kambing.