Skip to main content

اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ   ( يس: ٧٧ )

awalam
أَوَلَمْ
ataukah tidak
yara
يَرَ
memperhatikan
l-insānu
ٱلْإِنسَٰنُ
manusia
annā
أَنَّا
bahwasannya Kami
khalaqnāhu
خَلَقْنَٰهُ
Kami menciptakannya
min
مِن
dari
nuṭ'fatin
نُّطْفَةٍ
air mani
fa-idhā
فَإِذَا
maka tiba-tiba
huwa
هُوَ
dia
khaṣīmun
خَصِيمٌ
musuh
mubīnun
مُّبِينٌ
nyata

'Awalam Yara Al-'Insānu 'Annā Khalaqnāhu Min Nuţfatin Fa'idhā Huwa Khaşīmun Mubīnun. (Yāʾ Sīn 36:77)

Artinya:

Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata! (QS. [36] Yasin : 77)

1 Tafsir Ringkas Kemenag

Beralih dari uraian tentang pendustaan kaum kafir kepada Nabi Muhammad, Allah melalui ayat ini menjelaskan keniscayaan hari kebangkitan. Ayat ini turun untuk menjawab kelancangan al-‘Às bin Wà’il yang menantang Rasulullah untuk membuktikan kemampuan Allah membangkitkan kembali tulang lapuk yang dibawanya. Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, kemudian setelah melalui berbagai proses ia lahir ke dunia dan tumbuh menjadi manusia sempurna, lalu ternyata dia menjadi musuh yang nyata! Mereka berubah menjadi musuh dengan mengingkari hari kebangkitan. Sungguh, sikap ini tidak sejalan dengan akal sehat.