Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
وَمَن
dan barang siapa
لَّمْ
tidak
يَسْتَطِعْ
cukup
مِنكُمْ
dari/di antara kamu
طَوْلًا
perbelanjaan/nafkah
أَن
sesungguhnya
يَنكِحَ
mengawini
ٱلْمُحْصَنَٰتِ
wanita-wanita merdeka
ٱلْمُؤْمِنَٰتِ
yang beriman
فَمِن
maka dari
مَّا
apa
مَلَكَتْ
memiliki
أَيْمَٰنُكُم
tangan kananmu/budakmu
مِّن
dari
فَتَيَٰتِكُمُ
pemudi-pemudimu/wanitamu
ٱلْمُؤْمِنَٰتِۚ
yang beriman
وَٱللَّهُ
dan Allah
أَعْلَمُ
lebih mengetahui
بِإِيمَٰنِكُمۚ
dengan keimananmu
بَعْضُكُم
sebagian kamu
مِّنۢ
dari
بَعْضٍۚ
sebagian lain
فَٱنكِحُوهُنَّ
maka nikahilah mereka
بِإِذْنِ
dengan seizin
أَهْلِهِنَّ
ahlinya/tuannya
وَءَاتُوهُنَّ
dan berilah mereka
أُجُورَهُنَّ
mahar mereka
بِٱلْمَعْرُوفِ
dengan/menurut yang patut
مُحْصَنَٰتٍ
wanita-wanita merdeka/yang memelihara diri
غَيْرَ
bukan/tidak
مُسَٰفِحَٰتٍ
wanita-wanita pezina
وَلَا
dan bukan
مُتَّخِذَٰتِ
wanita yang mengambil laki-laki lain
أَخْدَانٍۚ
gendak
فَإِذَآ
maka apabila
أُحْصِنَّ
mereka telah menjaga diri
فَإِنْ
maka jika
أَتَيْنَ
mereka mendatangi/melakukan
بِفَٰحِشَةٍ
dengan perbuatan keji
فَعَلَيْهِنَّ
maka atas mereka
نِصْفُ
separuh
مَا
apa
عَلَى
atas
ٱلْمُحْصَنَٰتِ
wanita-wanita yang merdeka
مِنَ
dari
ٱلْعَذَابِۚ
siksa
ذَٰلِكَ
demikian itu
لِمَنْ
bagi orang
خَشِىَ
(ia) takut
ٱلْعَنَتَ
sulit menjaga diri
مِنكُمْۚ
dari/di antara kamu
وَأَن
dan jika
تَصْبِرُوا۟
kamu bersabar
خَيْرٌ
lebih baik
لَّكُمْۗ
bagi kalian
وَٱللَّهُ
dan Allah
غَفُورٌ
Maha Pengampun
رَّحِيمٌ
Maha Penyayang

Wa Man Lam Yastaţi` Minkum Ţawlāan 'An Yankiĥa Al-Muĥşanāti Al-Mu'umināti Famin Mā Malakat 'Aymānukum Min Fatayātikum Al-Mu'umināti Wa Allāhu 'A`lamu Bi'īmānikum Ba`đukum Min Ba`đin Fānkiĥūhunna Bi'idhni 'Hlihinna Wa 'Ātūhunna 'Ujūrahunna Bil-Ma`rūfi Muĥşanātin Ghayra Musāfiĥātin Wa Lā Muttakhidhāti 'Akhdānin Fa'idhā 'Uĥşinna Fa'in 'Atayna Bifāĥishatin Fa`alayhinna Nişfu Mā `Alaá Al-Muĥşanāti Mina Al-`Adhābi Dhālika Liman Khashiya Al-`Anata Minkum Wa 'An Taşbirū Khayrun Lakum Wa Allāhu Ghafūrun Raĥīmun.

Tafsir Bahasa:

Dan barangsiapa di antara kamu tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman, maka (dihalalkan menikahi perempuan) yang beriman dari hamba sahaya yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu. Sebagian dari kamu adalah dari sebagian yang lain (sama-sama keturunan Adam-Hawa), karena itu nikahilah mereka dengan izin tuannya dan berilah mereka maskawin yang pantas, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya. Apabila mereka telah berumah tangga (bersuami), tetapi melakukan perbuatan keji (zina), maka (hukuman) bagi mereka setengah dari apa (hukuman) perempuan-perempuan merdeka (yang tidak bersuami). (Kebolehan menikahi hamba sahaya) itu, adalah bagi orang-orang yang takut terhadap kesulitan dalam menjaga diri (dari perbuatan zina). Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

(25) Dari permulaan surah an-Nisa sampai ayat 25 diperlihatkan gambaran kehidupan transisi masa jahiliyah dengan masa permulaan Islam. Pertama, soal pemilikan harta anak yatim oleh kerabat dari pihak bapak, kedua, laki-laki yang dapat mengawini perempuan dalam jumlah istri yang tanpa batas dibatasi menjadi empat istri, dan ketiga, masalah keluarga dan perbudakan, terutama budak perempuan. Waktu itu perbudakan yang sudah melembaga di seluruh dunia, tidak terkecuali di Semenanjung Arab masa jahiliyah, memang sangat subur. Secara bertahap semua penyakit masyarakat ini harus diubah, dan inilah yang sudah dimulai pada masa permulaan Islam, seperti yang dapat kita lihat dalam ayat-ayat di atas. Al-Qur'an telah merekam peristiwa-peristiwa yang berlaku waktu itu, dan ini perlu, karena ajaran Islam dalam masalah ini menghapus perbudakan dalam bentuk apa pun (2; 177, 9; 60), dicontohkan oleh Nabi yang telah membebaskan budak-budak yang ada padanya, oleh Abu Bakar as-Siddiq yang telah membeli 7 orang budak dari tuannya lalu dibebaskan sebagai orang merdeka, termasuk Bilal (lihat tafsir 92; 17-18). Dalam zakat, asnaf ke-5 penerimaan zakat dapat digunakan untuk memerdekakan budak. Menikah dengan seorang perempuan yang merdeka, menuntut syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak suami, seperti memberi mahar, nafkah dan sebagainya. Maka jika seseorang tidak mempunyai biaya dan nafkah yang cukup untuk menikahi seorang perempuan merdeka yang beriman, maka dia dibolehkan menikahi hamba sahaya yang beriman. Orang yang menikah dengan hamba sahaya biasanya mendapatkan perlakuan yang kurang baik di dalam masyarakat, bahkan tidak jarang mendapat ejekan dan cemoohan. Apabila orang yang menikah dengan hamba sahaya memperlakukan dengan baik serta sabar menahan cemoohan dan ejekan, selama dia melayarkan bahtera rumah tangganya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Semua ketentuan ini sebagai lanjutan ayat sebelumnya, tidak lepas dari peristiwa perang yang terjadi waktu itu dengan segala akibatnya sehingga tawanan-tawanan perang dalam hal tertentu dapat dijadikan budak belian dan hamba sahaya, seperti yang sudah menjadi ketentuan dunia waktu itu. Apa yang telah direkam dalam Al-Qur'an memperlihatkan kepada kita betapa buruknya kondisi masyarakat itu, masyarakat jahiliyah. Selain hamba sahaya yang sudah melembaga begitu mendalam dalam masyarakat, ditambah lagi dengan ketentuan, bahwa setiap tawanan perang harus menjadi budak baru. Secara berangsur masalah sosial demikian yang sudah dianggap wajar dalam masyarakat harus diubah. Dalam hal ini perubahan tentu tidak dapat dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap. Salah satunya dengan cara menebus atau membeli budak-budak itu lalu dimerdekakan, dan orang beriman harus berusaha untuk itu, seperti yang sudah ditentukan dalam Al-Qur'an tersebut di atas. Dengan demikian segala macam kelas sosial, terutama perbudakan harus dihapus, dan martabat manusia harus dikembalikan kepada fitrahnya. Manusia dilihat hanya dari ketakwaannya (49; 13). Dalam masyarakat Muslim tidak boleh ada perbudakan, termasuk penjajahan.